Akselerasi integrasi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Atap di Indonesia,
khususnya setelah perubahan ketentuan melalui Peraturan Menteri ESDM Nomor
2 Tahun 2024, mendorong kebutuhan akan metode penentuan batas penetrasi atau
hosting capacity jaringan yang aman dan lebih representatif terhadap kondisi
operasi. PLTS Atap terhubung ke jaringan melalui inverter berbasis elektronika
daya yang dapat menghasilkan distorsi arus harmonik. Secara agregat, arus
harmonik dari banyak inverter yang terhubung di sisi hilir berpotensi mengalir
melalui transformator distribusi dan meningkatkan rugi-rugi berbeban, terutama
winding eddy-current loss dan other stray loss. Peningkatan rugi-rugi tersebut dapat
menaikkan temperatur operasi transformator dan memengaruhi penuaan isolasi.
Dalam pendekatan net-loading konvensional, pembebanan transformator
direpresentasikan melalui selisih antara beban dan daya PLTS. Pendekatan ini dapat
merepresentasikan komponen fundamental secara sederhana, tetapi menjadi
optimistis apabila faktor net-loading yang sama digunakan untuk menskalakan
kontribusi harmonik, karena kontribusi harmonik terkait operasi inverter tidak
serta-merta menghilang ketika net-loading fundamental mendekati nol.
Penelitian ini mengembangkan formulasi Split-K sebagai aturan penskalaan
terpisah antara komponen fundamental dan harmonik dalam model rugi-rugi
transformator untuk mengevaluasi thermal hosting capacity. Penelitian dilakukan
melalui empat tahapan utama. Tahap pertama adalah perumusan Split-K, dengan
faktor fundamental
????????????????????=|?????????????????????????????????|?????????
untuk merepresentasikan net-
loading fundamental dan faktor
????????????=?????????????????????
untuk menskalakan kontribusi
harmonik yang diasosiasikan dengan tingkat operasi PLTS. Formulasi ini
selanjutnya diintegrasikan dengan model rugi-rugi berdasarkan IEEE Std C57.110-
2018 dan model termal steady-state yang mengacu pada IEEE Std C57.91-2011.
Tahap kedua merupakan verifikasi internal model pada kondisi sinusoidal nominal untuk memastikan konsistensi implementasi numerik terhadap parameter acuan transformator 400 kVA. Tahap ketiga mengevaluasi respons model menggunakan
spektrum referensi arus ha
rmonik inverter PLTS yang diskalakan ke skenario utama
THDi 6,76%, dengan
????????????
=
1
,
1733
pada titik pembebanan
field
-
informed
52, 75,
2
110, dan 130 kVA. Tahap keempat merupakan evaluasi lanjutan menggunakan lima
skenario pembebanan siang berbasis data
Advanced Metering Infrastructure
(AMI)
Maret
–
Mei 2026, yaitu 40, 47, 52, 60, dan 70 kVA, yang dibentuk dari 56
pelanggan
common
-
core
.
Verifikasi internal menunjukkan bahwa model dasar mereproduksi kondisi acuan sinusoidal nominal dengan galat numerik 0,00. Pada kondisi nominal dengan
spektrum harmonik
baseline
, rugi berbeban meningkat sebesar 120,72 W, dari
3.850,00 W menjadi 3.970,72 W, dan estimasi temperatur
hot
-
spot
meningkat
sebesar 1,86°C dibandingkan kondisi sinusoidal. Pada empat skenario pembebanan
field
-
informed
, formulasi
Split
-
K
menghasilkan estimasi
thermal hosting capacity
yang lebih rendah sebesar 7,82
–
10,73 kVA atau 1,73
–
2,02% dibandingkan
pendekatan
net
-
loading
. Evaluasi lanjutan menggunakan lima skenario
AMI
-
derived
memberikan hasil yang konsisten, yaitu
thermal hosting capacity
Split
-
K
sebesar 432,60
–
461,56 kVA dibandingkan 440
–
470 kVA pada pendekatan
net
-
loading
, dengan perbedaan sebesar 7,40
–
8,44 kVA atau 1,68
–
1,80%.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa koreksi akibat pemisahan penskalaan fundamental dan harmonik relatif kecil, tetapi konsisten searah.
Pendekatan net-
loading satu faktor cenderung sedikit melebihkan margin termal karena kontribusi
harmonik ikut tereduksi ketika net-loading fundamental mengecil. Kebaruan
penelitian ini terletak pada aturan pengaitan antara kapasitas operasi PLTS, net-
loading fundamental, dan karakteristik spektrum harmonik dalam rantai
perhitungan rugi-rugi, temperatur, dan thermal hosting capacity transformator
distribusi. Formulasi Split-K ditujukan sebagai alat screening termal awal dan
bukan sebagai satu-satunya dasar penetapan kuota atau persetujuan penyambungan
PLTS, karena batasan jaringan lainnya serta validasi temperatur dan atribusi
sumber harmonik secara empiris berada di luar lingkup penelitian.
Perpustakaan Digital ITB