digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Industri konstruksi gedung bertingkat merupakan salah satu sektor dengan tingkat risiko kecelakaan kerja tertinggi, di mana berbagai insiden yang tercatat di lapangan menunjukkan bahwa perilaku tidak aman (unsafe action) menjadi pemicu utama terjadinya kecelakaan. Pada proyek konstruksi gedung PT “X”, pola kecelakaan yang berulang selama beberapa tahun terakhir mengindikasikan bahwa tindakan tidak aman masih muncul dalam berbagai bentuk, meskipun perusahaan telah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) dan Rencana Keselamatan Konstruksi (RKK). Fakta ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengaturan keselamatan dalam dokumen formal dan perilaku aktual pekerja. Kondisi tersebut menegaskan perlunya kajian komprehensif untuk memahami bentuk unsafe action yang terjadi serta faktor-faktor penyebab yang memengaruhi perilaku tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi unsafe action yang sering muncul pada proyek konstruksi gedung skala besar, menentukan indikator penyebab dominan berdasarkan empat perspektif utama: kondisi objektif, manajemen keselamatan, persepsi individu, dan pengaruh kelompok, serta merumuskan rekomendasi penguatan RKK melalui optimasi program yang sudah berjalan dan pengembangan program baru agar lebih efektif dalam mengendalikan risiko perilaku pekerja. Rumusan tujuan ini disusun untuk menjawab kebutuhan industri konstruksi akan pemahaman yang lebih mendalam terkait akar penyebab perilaku tidak aman, sehingga upaya mitigasi risiko dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran dan berkelanjutan. Metode penelitian meliputi studi literatur, validasi indikator oleh lima ahli K3 konstruksi, kuesioner pilot study, dan pengumpulan data utama melalui kuesioner. Responden terdiri dari 178 pekerja yang mengisi kuesioner cetak dan 119 personel manajemen proyek yang mengisi melalui Google Forms. Uji validitas dan reliabilitas menunjukkan bahwa seluruh instrumen layak digunakan dengan nilai Cronbach’s Alpha >0,7. Analisis kuantitatif dilakukan menggunakan analisis deskriptif untuk unsafe action yang sering dilakukan pekerja dan Relative Importance Index (RII) untuk faktor-faktor penyebab unsafe action, sedangkan analisis kualitatif dilakukan melalui focus group discussion (FGD) dengan para ahli K3 PT “X” untuk memvalidasi prioritas unsafe action dan menilai hubungan temuan dengan riwayat kecelakaan nyata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsafe action pada proyek tidak hanya berkaitan dengan pelanggaran prosedural seperti ketidakpatuhan penggunaan APD atau penempatan material yang tidak sesuai, tetapi juga dipengaruhi oleh tekanan pekerjaan, beban target waktu, kondisi fisik dan mental pekerja, serta keterbatasan pemahaman terhadap prosedur keselamatan. Selain itu, norma kelompok kerja termasuk keteladanan mandor, pola interaksi antar pekerja, dan kebiasaan kerja yang terbentuk secara informal terbukti memiliki pengaruh terhadap munculnya tindakan tidak aman. Faktor manajerial seperti kurangnya konsistensi pengawasan, tidak optimalnya koordinasi, serta keterbatasan penyediaan sarana keselamatan turut memperkuat kecenderungan tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa unsafe action dalam konteks proyek gedung bersifat multidimensi dan dipengaruhi interaksi antara faktor teknis, sosial, psikologis, dan manajerial. Kebaruan penelitian ini terletak pada tahapan tiga sumber data hasil survei berskala besar, validasi ahli melalui FGD, dan pemetaan historis kecelakaan kerja yang menghasilkan prioritas unsafe action berbasis bukti empiris yang kuat. Selain itu, penelitian ini menghadirkan orisinalitas melalui pemetaan langsung antara penyebab unsafe action dan kesenjangan implementasi RKK, sehingga rekomendasi yang disusun dapat diimplementasikan secara operasional oleh kontraktor. Penelitian ini memberikan kontribusi penting bagi ilmu keselamatan konstruksi dengan menyajikan kerangka analisis perilaku tidak aman secara lebih menyeluruh. Temuan penelitian ini memperkuat pemahaman mengenai faktor-faktor yang memengaruhi perilaku pekerja pada proyek gedung bertingkat, serta memberikan dasar empiris untuk merancang intervensi berbasis perilaku yang lebih efektif. Intervensi tersebut diharapkan dapat meningkatkan penerapan RKK dan mengurangi kecelakaan kerja yang disebabkan oleh unsafe action di sektor konstruksi.