digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kemacetan di gerbang tol masih menjadi permasalahan operasional yang penting pada koridor jalan tol perkotaan, khususnya ketika volume kendaraan pada jam puncak melampaui kapasitas pelayanan transaksi yang tersedia. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas penerapan Mobile Reader (MR) dan Single Line Free Flow (SLFF) dalam mengurangi kemacetan dan meningkatkan kinerja transaksi di Jalan Tol JORR-S, dengan lokasi penelitian di Gerbang Tol Ampera 1 dan Gerbang Tol Cilandak Utama 2. Analisis dilakukan dengan membandingkan sistem E-Toll eksisting, Mobile Reader, dan SLFF berdasarkan kinerja operasional, kondisi antrean, kepuasan pengguna, dan efisiensi biaya. Data observasi pelayanan SLFF berasal dari Ampera 2; SLFF belum tersedia di Cilandak. Laju SLFF digunakan sebagai asumsi pada skenario kedua gerbang yang dievaluasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kuantitatif melalui observasi lapangan, pengukuran waktu pelayanan, analisis volume lalu lintas jam puncak, analisis antrean, survei kepuasan pengguna, serta evaluasi Total Cost of Ownership (TCO). Waktu pelayanan dianalisis dengan memisahkan waktu pendekatan, waktu transaksi, dan waktu keberangkatan kendaraan. Volume lalu lintas jam puncak digunakan sebagai input tingkat kedatangan dalam model antrean, sedangkan tingkat pelayanan dihitung berdasarkan kinerja transaksi hasil observasi. Kepuasan pengguna diukur menggunakan data kuesioner yang mencakup kecepatan transaksi, pengurangan antrean, keandalan sistem, kenyamanan, kemudahan penggunaan, dan kepuasan secara keseluruhan. Uji reliabilitas dan validitas juga dilakukan untuk memastikan kualitas instrumen survei. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu transaksi sistem E-Toll eksisting dan Mobile Reader masih memenuhi target Standar Pelayanan Minimal. Namun, hasil analisis antrean menunjukkan bahwa konfigurasi gardu eksisting pada kedua gerbang tol berada dalam kondisi tidak stabil, dengan nilai utilisasi melebihi 1,00. Kondisi ini menunjukkan bahwa tingkat kedatangan kendaraan lebih besar daripada kapasitas pelayanan yang tersedia sehingga panjang antrean dan waktu tunggu secara teoretis akan terus bertambah selama periode jam puncak. Berdasarkan kepuasan pengguna, SLFF memperoleh tingkat kepuasan pelanggan tertinggi dibandingkan sistem E-Toll eksisting dan Mobile Reader. Responden yang pernah menggunakan SLFF juga menunjukkan dukungan yang lebih kuat terhadap penerapan sistem tersebut secara lebih luas. Dari sisi efisiensi biaya, analisis TCO memberikan dasar tambahan untuk membandingkan kelayakan jangka panjang masing-masing sistem transaksi tol. Sampel SLFF mencakup 21 pengamatan di Ampera 2. Penghematan biaya masih bersyarat pada validasi pemeliharaan MR dan realisasi pengurangan biaya petugas. Secara keseluruhan, penelitian ini menyimpulkan bahwa SLFF memiliki potensi paling kuat untuk meningkatkan kinerja gerbang tol karena dapat mengurangi kebutuhan kendaraan untuk berhenti, meningkatkan persepsi pengguna terhadap kualitas pelayanan, serta mendukung transformasi digital jangka panjang dalam pengoperasian jalan tol. Mobile Reader dapat digunakan sebagai solusi transisi untuk menangani antrean dalam jangka pendek. Namun, ketergantungannya pada pengoperasian secara manual membatasi skalabilitasnya dalam jangka panjang. Oleh karena itu, penerapan SLFF secara bertahap yang didukung oleh kesiapan infrastruktur, sosialisasi kepada pengguna, keandalan sistem, dan penegakan aturan yang memadai direkomendasikan sebagai arah strategis untuk meningkatkan efisiensi transaksi di Jalan Tol JORR-S.