Oxygen Minimum Zone (OMZ) di bagian utara Samudra Hindia adalah wilayah
alami dengan kadar oksigen terlarut yang sangat rendah (<2 mmol/m3
) yang saat
ini mengalami deoksigenasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika
sebaran OMZ dan hubungannya dengan parameter oseanografi dan sirkulasi massa
air di Laut Arab dan Teluk Benggala berdasarkan integrasi data observasi GLODAP
v2.2023 dan reanalisis CMEMS periode 1993 – 2023. Analisis profil vertikal,
diagram T-S, sebaran vertikal, sebaran spasial multi-layer, validasi data, dan tren
konsentrasi oksigen terlarut dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa OMZ
paling kuat yang menunjukkan kondisi anoksia ditemukan di Laut Arab pada
kedalaman 289 – 623 m yang dikontrol oleh produktivitas biologis yang tinggi dan
pasokan massa air minim oksigen dari Teluk Persia dan Laut Merah. Sebaliknya,
suplai oksigen lateral melalui Southwest Monsoon Current (SMC) membuat Teluk
Benggala hanya mencapai kondisi hipoksia mikroba yang nilainya masih diatas 0,5
mmol/m3 pada kedalaman 59 – 744 m dan tidak mencapai anoksia fungsional.
Namun, selama 30 tahun, wilayah ini menunjukkan laju penurunan oksigen terlarut
tertinggi sebesar -0,4760 mmol/m3 per tahun dan penurunan signifikan juga
terjadi di seluruh wilayah kajian. Penelitian ini menemukan bahwa penguatan
stratifikasi dan pemanasan global mendorong perluasan OMZ yang tercermin dari
penurunan konsentrasi oksigen terlarut pada inti OMZ di kedalaman 411 m sebesar
-32,573% dari tahun 1993 ke 2023. Selain itu, peran penting sirkulasi musiman
adalah sebagai mekanisme ventilasi alami dalam mencegah perluasan zona hipoksia
di Teluk Benggala.
Perpustakaan Digital ITB