Gunung Lewotobi merupakan gunung berapi yang kompleks dengan sejarah letusan yang panjang dengan letusan pertama tercatat pada tahun 1675 dan kemudian meletus kembali pada 23 Desember 2023 dan masih berlanjut hingga pertengahan tahun 2025. Adanya aktivitas vulkanik dapat memengaruhi variasi tekanan di dalam kantong magma dan menyebabkan deformasi, namun pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika deformasi permukaannya masih terbatas. Pemantauan deformasi permukaan jangka panjang dan presisi memainkan peran penting dalam memahami dinamika gunung berapi sebelum letusan. Studi ini bertujuan untuk memantau dinamika deformasi permukaan Lewotobi selama periode 8 tahun dan menyelidiki keberadaan titik-titik sumber deformasi. Studi ini menggunakan teknik Small Baseline Subset InSAR (SBAS-InSAR) pada data satelit Sentinel-1 untuk memetakan dan menghitung akumulasi deformasi permukaan secara spasial dan temporal di kawasan Lewotobi selama periode 2018 hingga 2025. Setelah hasil deformasi didapatkan, dilanjutkan dengan pemodelan titik sumber deformasi menggunakan metode inversi Mogi untuk mengetahui lokasi dan kedalaman titik magma. Hasil penyelidikan deformasi mengidentifikasi terjadinya inflasi di kedua puncak, dengan akumulasi deformasi Lewotobi Laki-laki sebesar 326 mm dan Lewotobi Perempuan sebesar 142 mm. Pemodelan Mogi menunjukkan bahwa perubahan volume akumulatif untuk Gunung Lewotobi adalah 1,21×10? m³ pada kedalaman 957 meter di bawah Lewotobi Laki-laki dan 1,09×10? m³ pada kedalaman 2172 meter di bawah Lewotobi Perempuan. Kedalaman sumber yang dangkal ini mengindikasikan migrasi magma yang relatif cepat dan potensi bahaya yang tinggi, sehingga memerlukan kewaspadaan dalam pemantauan. Hasil pemodelan Mogi yang diperoleh dalam penelitian ini merupakan estimasi orde pertama atau karakterisasi awal untuk menentukan informasi awal mengenai lokasi titik sumber sebagai bahan pertimbangan dalam penelitian lebih lanjut.
Perpustakaan Digital ITB