digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kepulauan Mentawai merupakan gugusan pulau yang terletak disepanjang pantai barat Sumatra bagian Barat dan berada di atas zona subduksi pertemuan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia. Pergerakan lempeng memicu terjadinya gempa bumi, hingga menimbulkan deformasi di permukaan. Deformasi permukaan dapat diamati dengan melakukan pengamatan Global Positioning System (GPS). Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui karakteristik dari fenomena yang terjadi setelah gempa Mentawai 25 Oktober 2010, yaitu post-seismic dalam bentuk afterslip, sehingga dapat digunakan untuk melakukan mitigasi bencana dan studi kegempaan dimasa yang akan datang. Karakteristik afterslip yang terjadi akibat gempa Mentawai dapat diidentifikasi dengan melakukan suatu pemodelan menggunakan dua model fitting yaitu Logaritmik dan Eksponensial. Metode ini digunakan sebagai salah satu cara dalam memodelkan bagaimana fenomena afterslip berlangsung. Berdasarkan kedua model tersebut dapat dipilih model fitting terbaik dengan cara menghitung (Root Mean Square) RMS masing-masing model dan memilih RMS terkecil dalam menentukan model optimal untuk deret waktu pengamatan. Berdasarkan pemodelan yang dilakukan, diperoleh hasil fit terbaik dengan menggunakan model Logaritmik yang memiliki RMS 17.1 mm dengan tlog sebesar 5.2 ± 0.1 hari yang menyatakan waktu peluruhan afterslip bidang sesar gempa. Sedangkan fit dengan menggunakan model Eksponensial, diperoleh RMS 145.9 mm dengan texp sebesar 72.9±0.1 hari. Analisis pemodelan menunjukkan bahwa afterslip dari gempa Mentawai 25 Oktober 2010 lebih baik dijelaskan dengan model Logaritmik dibandingan Eksponensial. Dapat disimpulkan bahwa afterslip gempa Mentawai memiliki karakteristik Logaritmik yang berlangsung hingga hari ±180 setelah gempa.