Penelitian ini menyelidiki gangguan ionosfer global yang diakibatkan oleh erupsi Hunga
Tonga-Hunga Ha’apai (HTHH) pada 2022, menggunakan data GNSS-TEC resolusi tinggi dari
25 stasiun. Kami menemukan gangguan utama (Periode I) yang merambat dengan kecepatan
fase horizontal yang paling sesuai sebesar 355,68 m/s, yang mengonfirmasi adanya superposisi
antara gelombang Lamb troposferik dan gelombang kejut akustik di termosfer. Analisis
spektral mengungkapkan struktur multi-periode yang kompleks, termasuk Periode II hibrida,
yang menunjukkan transisi dari gelombang kejut supersonik menjadi gelombang gravitasi
global dengan kecepatan sekitar 209 m/s, serta Periode IV dengan durasi sekitar 4 menit, yang
memvalidasi adanya resonansi akustik vertikal. Temuan penting dari studi ini adalah deteksi
anomali amplitudo ekstrem di stasiun HKSL (Hong Kong) yang mencapai 25,0 TECU, jauh
melebihi respons yang terdeteksi di dekat sumber. Kami menunjukkan bahwa penguatan
amplitudo ini bukanlah anomali acak, melainkan hasil interaksi konstruktif antara gelombang
yang merambat dan elektrodinamika waktu lokal (local time), yang terjadi selama fenomena
Pre-Reversal Enhancement (PRE) di sektor senja. Sebaliknya, di daerah dekat sumber, respons
fisik didominasi oleh fenomena lubang ionosfer dinamis akibat gelombang kejut. Temuan ini
menegaskan bahwa magnitudo gangguan ionosfer vulkanik sangat dipengaruhi oleh kondisi
elektrodinamika lokal sepanjang jalur propagasi gelombang, bukan hanya energi yang
dihasilkan oleh sumber. Selain itu, perbedaan signifikan antara kecepatan gangguan ionosfer
dan tsunami laut semakin memperkuat potensi penggunaan GNSS-TEC sebagai sistem
peringatan dini untuk mendeteksi ancaman tsunami yang disebabkan oleh peristiwa vulkanik.
Perpustakaan Digital ITB