Flores, berpotensi memiliki produktivitas primer tinggi akibat upwelling musiman
yang membawa nutrien ke permukaan, dikendalikan tidak hanya oleh sistem
monsun tetapi juga diduga oleh El Niño-Southern Oscillation (ENSO). Penelitian
ini bertujuan mengkaji variasi musiman produktivitas primer bersih (NPP) di
Perairan Sulawesi Selatan serta variabilitas antar-tahunnya dan hubungannya
dengan ENSO. NPP diestimasi menggunakan model Vertically Generalized
Production Model (VGPM) berdasarkan data satelit Aqua MODIS (resolusi 4 km)
untuk klorofil-a, suhu permukaan laut (SPL), dan radiasi fotosintetik aktif (PAR)
periode 2007-2024, serta diverifikasi terhadap data resmi VGPM dari Ocean
Productivity Site, Oregon State University (OSU, resolusi 9 km). Dampak ENSO
dianalisis melalui korelasi Pearson antara anomali NPP dan Oceanic Niño Index
(ONI). Hasil menunjukkan NPP tertinggi terjadi pada musim timur/JJA (870,29 mg
C m?² hari?¹), bertepatan dengan klorofil-a tertinggi (0,85 mg/m³) dan SPL terendah
(28,88 °C), mengindikasikan upwelling akibat penguatan Monsun Tenggara. NPP
berkorelasi sangat kuat dengan klorofil-a (r = 0,96), sedang-negatif dengan SPL (r
= -0,64), dan sangat lemah dengan PAR (r = -0,11), menegaskan nutrien sebagai
faktor pembatas utama produktivitas primer di wilayah ini. Secara antar-tahun, NPP
justru meningkat saat El Niño, terutama pada 2015/2016, dan menurun saat La Niña
berkepanjangan (2020-2023), berkebalikan dengan mekanisme klasik di perairan
upwelling Pasifik Timur namun konsisten dengan dinamika Arus Lintas Indonesia
(Arlindo) di Selat Makassar, dengan korelasi ONI-anomali NPP positif signifikan
di Laut Flores (r = 0,325-0,345; p < 0,0001). Verifikasi terhadap data OSU
menunjukkan korelasi tinggi di perairan yang didominasi upwelling (r = 0,942),
namun lebih rendah di perairan yang dipengaruhi limpasan sungai (r = 0,662),
mengindikasikan keterbatasan algoritma klorofil-a satelit di perairan pesisir/estuari
terpengaruh limpasan sungai.
Perpustakaan Digital ITB