digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Sektor pertambangan memainkan peran sentral dalam dinamika perekonomian Indonesia, menjadi pilar utama penyediaan energi dan sumber daya mineral strategis untuk kebutuhan domestik dan ekspor. Sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia, Indonesia menyumbang sekitar 30-40% dari permintaan batu bara global. Kontribusi vital sektor ini tercermin dalam data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM, 2024), yang menyatakan bahwa sektor mineral dan batu bara (Minerba) menyumbang Rp2.198 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional pada tahun 2023, setara dengan 10,5% dari total PDB. Perusahaan Pertambangan adalah salah satu kontraktor pertambangan terkemuka di Indonesia, yang berspesialisasi dalam operasi penambangan batu bara dan infrastruktur pendukungnya. Proyek Pertambangan Lahat (LMP) merupakan salah satu proyek pertambangan Perusahaan Pertambangan yang berlokasi di Sumatra Selatan. Proyek Tambang Lahat (LMP), sebuah perusahaan jasa pertambangan, menghadapi tantangan terkait budaya organisasi, yang mengakibatkan tidak terpenuhinya kewajiban laporan kerja oleh satu divisi di Lokasi Kerja LMP dari Januari hingga Agustus 2025. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh Kepemimpinan, Komunikasi, Keterlibatan Karyawan, dan Pelatihan terhadap budaya organisasi; mengidentifikasi variabel mana yang diprioritaskan sebagai peluang untuk meningkatkan budaya organisasi; dan memberikan rekomendasi untuk penguatan budaya organisasi di Lokasi Kerja Perusahaan Tambang di Proyek Tambang Lahat (LMP). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis deskriptif dan verifikatif. Analisis data dilakukan dengan menggunakan regresi berganda dan analisis kepentingan-kinerja. Sumber penelitian menggunakan data primer, yang dikumpulkan menggunakan kuesioner. Sampel dalam penelitian ini adalah 37 mekanik dari divisi Track Lokasi Kerja GL di LMP, dengan menggunakan teknik sensus. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa, menurut responden, Kepemimpinan, Keterlibatan Karyawan, dan Pelatihan berada dalam kategori tinggi, sedangkan Komunikasi dan Budaya Organisasi berada dalam kategori sedang. Hasil uji hipotesis menunjukkan adanya pengaruh positif dan signifikan antara Kepemimpinan, Komunikasi, Keterlibatan Karyawan, dan Pelatihan terhadap Budaya Organisasi, dengan pengaruh sebesar 84,2% terhadap Budaya Organisasi. Hasil analisis kepentingan-kinerja menunjukkan bahwa Pelatihan dan Komunikasi merupakan variabel yang perlu diprioritaskan untuk ditingkatkan. Strategi yang direkomendasikan untuk meningkatkan Pelatihan adalah melakukan survei evaluasi untuk menentukan apakah akan melanjutkan pelatihan yang sama atau pelatihan yang berbeda, dan untuk Komunikasi, melakukan evaluasi dan mengusulkan teknik komunikasi yang sesuai.