Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kerangka
optimal dalam pemodelan sumber gempa di wilayah Kalimantan yang dicirikan
oleh tingkat seismisitas rendah dan keterbatasan informasi struktur aktif, melalui
integrasi data katalog gempa dan deformasi geodetik dalam kerangka probabilistik.
Berbeda dengan pendekatan konvensional yang umumnya hanya mengandalkan
model berbasis katalog atau memperlakukan data geodetik sebagai prediktor
langsung laju seismisitas, penelitian ini memperkenalkan kerangka evaluasi
prediktif yang secara konsisten mengintegrasikan validasi statistik dan kendala
fisik.
Model berbasis katalog dikembangkan menggunakan pendekatan pemulusan
(smoothing) tetap (fixed) dan adaptif (adaptive), serta dievaluasi secara retrospektif
dengan skema pseudo-prospektif (out-of-sample) dalam kerangka Collaboratory for
the Study of Earthquake Predictability (CSEP). Hasil menunjukkan bahwa
pendekatan adaptive smoothing memberikan representasi spasial yang lebih stabil,
khususnya pada horizon waktu menengah (3–5 tahun), sementara model fixed
dengan bandwidth kecil cenderung menghasilkan distribusi yang terlalu
terlokalisasi dan menunjukkan performa spasial yang lebih rendah.
Model geodetik dikembangkan melalui konversi medan laju regangan GNSS
menjadi laju momen dan laju seismisitas. Hasil menunjukkan bahwa model
geodetik tidak secara langsung merepresentasikan realisasi kejadian gempa dalam
jangka pendek, sehingga lebih tepat diposisikan sebagai sumber informasi
tambahan, bukan sebagai prediktor langsung laju seismisitas.
Integrasi kedua sumber informasi dilakukan melalui model hibrida dengan
pendekatan multiplikatif (tipe-1) dan berbasis peringkat (tipe-2), di mana informasi
geodetik dimanfaatkan sebagai kovariat spasial. Dalam kerangka ini, transformasi
kovariat geodetik dilakukan secara terkontrol menggunakan pendekatan berbasis
machine learning tanpa melanggar asumsi Poisson dan struktur spasial model
berbasis katalog. Hasil menunjukkan bahwa model hibrida tidak secara universal
meningkatkan performa statistik dibandingkan model katalog, namun mampu
mempertahankan konsistensi probabilistik dan memperbaiki distribusi spasial
secara moderat.
Temuan ini menegaskan bahwa hubungan antara deformasi geodetik dan
seismisitas bersifat tidak linier, serta bahwa informasi geodetik berperan sebagai
pengendali atau korektor spasial, bukan sebagai penentu langsung jumlah kejadian
gempa.
Implementasi model dalam analisis bahaya (hazard) menunjukkan bahwa distribusi
bahaya gempa di Kalimantan didominasi oleh gradien spasial barat–timur yang
konsisten, dengan peningkatan hazard pada periode ulang yang lebih panjang
terjadi secara proporsional tanpa mengubah pola spasial utama. Hazard didominasi
oleh respons periode pendek hingga menengah (T ? 0,1–0,2 s), yang mencerminkan
dominasi sumber gempa kerak dangkal regional.
Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan kerangka metodologis yang
mengintegrasikan evaluasi statistik berbasis out-of-sample dan kendala fisik
berbasis deformasi geodetik dalam pemodelan sumber gempa. Pendekatan ini
menghasilkan model yang stabil secara statistik, konsisten secara geofisika, serta
memberikan kontribusi sebagai alternatif dalam penyusunan logic tree PSHA,
khususnya pada wilayah dengan keterbatasan data seperti Kalimantan.
Perpustakaan Digital ITB