digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Yuliastuti
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kerangka optimal dalam pemodelan sumber gempa di wilayah Kalimantan yang dicirikan oleh tingkat seismisitas rendah dan keterbatasan informasi struktur aktif, melalui integrasi data katalog gempa dan deformasi geodetik dalam kerangka probabilistik. Berbeda dengan pendekatan konvensional yang umumnya hanya mengandalkan model berbasis katalog atau memperlakukan data geodetik sebagai prediktor langsung laju seismisitas, penelitian ini memperkenalkan kerangka evaluasi prediktif yang secara konsisten mengintegrasikan validasi statistik dan kendala fisik. Model berbasis katalog dikembangkan menggunakan pendekatan pemulusan (smoothing) tetap (fixed) dan adaptif (adaptive), serta dievaluasi secara retrospektif dengan skema pseudo-prospektif (out-of-sample) dalam kerangka Collaboratory for the Study of Earthquake Predictability (CSEP). Hasil menunjukkan bahwa pendekatan adaptive smoothing memberikan representasi spasial yang lebih stabil, khususnya pada horizon waktu menengah (3–5 tahun), sementara model fixed dengan bandwidth kecil cenderung menghasilkan distribusi yang terlalu terlokalisasi dan menunjukkan performa spasial yang lebih rendah. Model geodetik dikembangkan melalui konversi medan laju regangan GNSS menjadi laju momen dan laju seismisitas. Hasil menunjukkan bahwa model geodetik tidak secara langsung merepresentasikan realisasi kejadian gempa dalam jangka pendek, sehingga lebih tepat diposisikan sebagai sumber informasi tambahan, bukan sebagai prediktor langsung laju seismisitas. Integrasi kedua sumber informasi dilakukan melalui model hibrida dengan pendekatan multiplikatif (tipe-1) dan berbasis peringkat (tipe-2), di mana informasi geodetik dimanfaatkan sebagai kovariat spasial. Dalam kerangka ini, transformasi kovariat geodetik dilakukan secara terkontrol menggunakan pendekatan berbasis machine learning tanpa melanggar asumsi Poisson dan struktur spasial model berbasis katalog. Hasil menunjukkan bahwa model hibrida tidak secara universal meningkatkan performa statistik dibandingkan model katalog, namun mampu mempertahankan konsistensi probabilistik dan memperbaiki distribusi spasial secara moderat. Temuan ini menegaskan bahwa hubungan antara deformasi geodetik dan seismisitas bersifat tidak linier, serta bahwa informasi geodetik berperan sebagai pengendali atau korektor spasial, bukan sebagai penentu langsung jumlah kejadian gempa. Implementasi model dalam analisis bahaya (hazard) menunjukkan bahwa distribusi bahaya gempa di Kalimantan didominasi oleh gradien spasial barat–timur yang konsisten, dengan peningkatan hazard pada periode ulang yang lebih panjang terjadi secara proporsional tanpa mengubah pola spasial utama. Hazard didominasi oleh respons periode pendek hingga menengah (T ? 0,1–0,2 s), yang mencerminkan dominasi sumber gempa kerak dangkal regional. Secara keseluruhan, penelitian ini menghasilkan kerangka metodologis yang mengintegrasikan evaluasi statistik berbasis out-of-sample dan kendala fisik berbasis deformasi geodetik dalam pemodelan sumber gempa. Pendekatan ini menghasilkan model yang stabil secara statistik, konsisten secara geofisika, serta memberikan kontribusi sebagai alternatif dalam penyusunan logic tree PSHA, khususnya pada wilayah dengan keterbatasan data seperti Kalimantan.