Apresiasi seni adalah pengalaman aktif yang dirasakan ketika mengamati karya
seni. Dengan demikian, pengalaman apresiasi seni yang didapatkan ketika
mengapresiasi karya dua dimensi konvensional dengan karya seni kontemporer
multisensori pasti berbeda. Anak-anak adalah salah satu apresiator seni yang
kemampuan apresiasinya sangat dipengaruhi oleh usia atau tahap perkembangan
kognitif, latar belakang pendidikan, dan ketertarikan personal. Penelitian yang
meneliti apresiasi seni anak biasanya fokus pada karya anak-anak itu sendiri, karyakarya seni lukis, atau karya-karya seni konvensional yang lebih umum diketahui.
Tujuan yang ingin dicapai penelitian adalah memahami cara anak-anak usia 8-11
tahun mengapresiasi dan berinteraksi dengan karya-karya pada pameran Olafur
Eliasson di Museum MACAN dan alasan bentuk apresiasi dan interaksi tertentu
hadir pada karya-karya yang dipilih anak-anak. Melalui purposive sampling, 5
orang sampel dipilih dan masing-masing mewakili usia-usia yang termasuk dalam
tahapan perkembangan kognitif operasional konkret menurut Piaget, yaitu antara 7-
11 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Visual Thinking Strategies (VTS)
yang dibagi menjadi tiga tahap sebagai metode pengambilan data. Bentuk-bentuk
respons yang hadir dianalisis menurut teori apresiasi Primadi Tabrani dan teori
perkembangan kognitif Jean Piaget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons
verbal dan tubuh anak-anak ketika mengapresiasi karya termasuk pada jenis
apresiasi kejutan, empati, dan simpati. Respons-respons ini biasanya lebih kaya dan
variatif pada karya-karya multisensori daripada karya dua dimensi yang
konvensional, akan tetapi, bukan berarti karya dengan respons variatif sudah pasti
dipilih anak sebagai karya favorit. Pemilihan karya favorit dapat didasarkan pada
ketertarikan personal yang baru terlihat ketika anak diajak berdiskusi dan berbicara.
Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap studi apresiasi seni anak dalam
konteks karya seni kontemporer berlatar museum.
Perpustakaan Digital ITB