digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Apresiasi seni adalah pengalaman aktif yang dirasakan ketika mengamati karya seni. Dengan demikian, pengalaman apresiasi seni yang didapatkan ketika mengapresiasi karya dua dimensi konvensional dengan karya seni kontemporer multisensori pasti berbeda. Anak-anak adalah salah satu apresiator seni yang kemampuan apresiasinya sangat dipengaruhi oleh usia atau tahap perkembangan kognitif, latar belakang pendidikan, dan ketertarikan personal. Penelitian yang meneliti apresiasi seni anak biasanya fokus pada karya anak-anak itu sendiri, karyakarya seni lukis, atau karya-karya seni konvensional yang lebih umum diketahui. Tujuan yang ingin dicapai penelitian adalah memahami cara anak-anak usia 8-11 tahun mengapresiasi dan berinteraksi dengan karya-karya pada pameran Olafur Eliasson di Museum MACAN dan alasan bentuk apresiasi dan interaksi tertentu hadir pada karya-karya yang dipilih anak-anak. Melalui purposive sampling, 5 orang sampel dipilih dan masing-masing mewakili usia-usia yang termasuk dalam tahapan perkembangan kognitif operasional konkret menurut Piaget, yaitu antara 7- 11 tahun. Penelitian ini menggunakan metode Visual Thinking Strategies (VTS) yang dibagi menjadi tiga tahap sebagai metode pengambilan data. Bentuk-bentuk respons yang hadir dianalisis menurut teori apresiasi Primadi Tabrani dan teori perkembangan kognitif Jean Piaget. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons verbal dan tubuh anak-anak ketika mengapresiasi karya termasuk pada jenis apresiasi kejutan, empati, dan simpati. Respons-respons ini biasanya lebih kaya dan variatif pada karya-karya multisensori daripada karya dua dimensi yang konvensional, akan tetapi, bukan berarti karya dengan respons variatif sudah pasti dipilih anak sebagai karya favorit. Pemilihan karya favorit dapat didasarkan pada ketertarikan personal yang baru terlihat ketika anak diajak berdiskusi dan berbicara. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap studi apresiasi seni anak dalam konteks karya seni kontemporer berlatar museum.