ABSTRAK Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Andre Otniel Panggabean
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Kota Bandung merupakan kota inti di Kawasan Perkotaan Cekungan Bandung yang
memiliki konsentrasi kegiatan perkotaan tinggi, tekanan mobilitas besar, serta
persoalan kemacetan yang memengaruhi akses masyarakat terhadap berbagai
aktivitas perkotaan. Di sisi lain, layanan ride-hailing berkembang sebagai alternatif
mobilitas yang fleksibel karena mampu melayani perjalanan secara point-to-point
tanpa bergantung pada rute dan halte tetap. Namun, fleksibilitas tersebut diikuti
oleh konsekuensi biaya yang lebih tinggi dibandingkan transit. Oleh karena itu,
aksesibilitas kegiatan perkotaan tidak cukup dianalisis hanya berdasarkan waktu
tempuh, tetapi juga perlu mempertimbangkan biaya perjalanan sebagai hambatan
akses. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aksesibilitas kegiatan perkotaan
di Kota Bandung berdasarkan trade-off antara waktu tempuh dan biaya perjalanan
pada moda ride-hailing dan transit.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif-spasial dengan metode
accessibility-based planning. Unit analisis yang digunakan adalah grid heksagonal
H3 resolusi 9 yang mencakup wilayah Kota Bandung. Opportunity kegiatan
perkotaan direpresentasikan melalui Point of interest yang diklasifikasikan dan
diagregasikan ke dalam setiap grid. Moda transit dalam penelitian ini dibatasi pada
layanan TMP, TMB, dan DAMRI, sedangkan ride-hailing dimodelkan sebagai
layanan sepeda motor berbasis aplikasi dengan estimasi biaya mengacu pada
Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KP 667 Tahun 2022 untuk Zona I.
Analisis dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis trade-off waktu-biaya
menggunakan distribusi perjalanan dan Pareto Surface, analisis ketercapaian
opportunity berdasarkan skenario waktu-biaya, serta analisis ketimpangan spasial
antar moda menggunakan Modal Accessibility Gap dan tipologi ketimpangan
aksesibilitas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ride-hailing memiliki waktu tempuh yang
lebih rendah dibandingkan transit. Rata-rata waktu tempuh ride-hailing adalah 31iv
menit dengan median 32 menit, sedangkan transit memiliki rata-rata waktu tempuh
60 menit dengan median 64 menit. Namun, keunggulan waktu ride-hailing diikuti
oleh biaya yang jauh lebih tinggi. Biaya transit dalam model bersifat tetap sebesar
Rp9.000, sedangkan rata-rata biaya ride-hailing mencapai Rp38.493. Hasil Pareto
Surface menunjukkan bahwa transit lebih dipengaruhi oleh batas waktu, sedangkan
ride-hailing lebih responsif terhadap kombinasi batas waktu dan biaya. Pada
skenario perjalanan menengah, yaitu 60 menit dan Rp40.000, aksesibilitas transit
mencapai 12,30%, sedangkan ride-hailing mencapai 38,25%. Pada skenario
perjalanan jauh dalam batas maksimum analisis, yaitu 90 menit dan Rp60.000,
aksesibilitas transit meningkat menjadi 26,29%, sedangkan ride-hailing mencapai
68,23%.
Secara spasial, ketercapaian opportunity tertinggi terkonsentrasi di kawasan pusat
dan barat-tengah Kota Bandung, seperti Bandung Wetan, Sumur Bandung,
Coblong, Sukajadi, Lengkong, dan Cibeunying Kaler. Sebaliknya, wilayah timur
dan tenggara seperti Cibiru, Ujungberung, Panyileukan, Cinambo, Gedebage,
Rancasari, dan Arcamanik menunjukkan ketercapaian opportunity yang rendah
pada kedua moda. Analisis keterjangkauan berbasis UMK menunjukkan bahwa
transit lebih terjangkau secara biaya karena seluruh perjalanan berada di bawah
threshold 10% UMK, sedangkan ride-hailing baru menjadi lebih terjangkau pada
threshold 30% hingga 40% UMK. Analisis Modal Accessibility Gap menunjukkan
bahwa sebagian besar wilayah Kota Bandung memiliki nilai positif, yang berarti
aksesibilitas ride-hailing lebih tinggi dibandingkan transit. Namun, tipologi
ketimpangan menunjukkan bahwa dominasi ride-hailing tidak selalu berarti
aksesibilitas absolut yang tinggi, karena beberapa wilayah pinggiran tetap masuk
kategori aksesibilitas rendah.
Penelitian ini menunjukkan bahwa aksesibilitas kegiatan perkotaan di Kota
Bandung dibentuk oleh interaksi antara distribusi opportunity, struktur jaringan
transit, fleksibilitas ride-hailing, waktu tempuh, biaya perjalanan, dan kemampuan
membayar. Kontribusi penelitian ini terletak pada penerapan analisis aksesibilitas
berbasis opportunity yang secara simultan mempertimbangkan waktu dan biaya
perjalanan dalam membandingkan ride-hailing dan transit. Hasil penelitian dapat
menjadi dasar bagi perencanaan transportasi yang lebih berorientasi pada
aksesibilitas, keterjangkauan, dan pengurangan ketimpangan spasial.
Perpustakaan Digital ITB