digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Vandikkar Silalahi
PUBLIC Open In Flipbook Rita Nurainni, S.I.Pus

Penelitian ini menganalisis dinamika volume transport (FV) dan advective heat flux (FH) pada sistem Indonesian Throughflow (ITF) dengan membandingkan periode Marine Isotope Stage 11 (MIS 11) dan Pra-Industri (PI) menggunakan simulasi model GCM, dengan tujuan menghitung FV dan FH secara kuantitatif di seluruh jalur ITF serta menentukan hubungan fisis antara keduanya dalam merespons perubahan iklim global. Pada periode PI, sirkulasi makro didominasi oleh koridor barat melalui Selat Makassar dengan FV tahunan sebesar ?5,54135 Sv (65,53% total inflow) dan FH sebesar ?0,54170 PW (59,94%), jauh melampaui kontribusi paparan dangkal seperti Selat Karimata (?0,03043 Sv; ?0,00372 PW) dan Laut Jawa (?0,13313 Sv; ?0,01459 PW). Memasuki era MIS 11, pelemahan orbital forcing memicu mekanisme freshwater plug dari penguatan transpor Paparan Sunda yang ditandai oleh peningkatan FV Selat Karimata menjadi ?0,03128 Sv dan Laut Jawa menjadi ?0,15112 Sv, sehingga Selat Makassar mencatat anomali positif sebesar 0,3398 Sv untuk FV dan 0,0278 PW untuk FH dengan nilai tahunan yang turun menjadi ?5,20147 Sv dan ?0,51329 PW. Hambatan hidrodinamis ini selanjutnya memicu rekonstruksi spasial sirkulasi secara menyeluruh, koridor timur mengalami penguatan signifikan dengan FV Selat Halmahera meningkat dari 1,20913 Sv menjadi 1,52219 Sv dan Selat Lifamatola dari 3,62358 Sv menjadi 3,65321 Sv, sementara pada jalur keluaran selatan Selat Lombok meningkat dari ?3,20516 Sv (FH ?0,33560 PW) menjadi ?3,28189 Sv (FH ?0,35049 PW), Selat Ombai menyusut dari ?3,99957 Sv menjadi ?3,79996 Sv, dan Selat Timor dari ?3,02906 Sv menjadi ?2,98598 Sv. Meskipun demikian, analisis hubungan fisis antara FV dan FH membuktikan bahwa stabilitas hantaran energi panas menuju Samudra Hindia tetap terjaga melalui mekanisme kompensasi termal yang efisien, fenomena subsurface warming intensif pada kedalaman 10–50 m meningkatkan muatan energi panas per unit volume massa air secara signifikan sehingga mampu mengimbangi defisit kecepatan arus di koridor barat, yang pada akhirnya menegaskan bahwa sistem ITF memiliki ketangguhan fisis dalam mempertahankan keseimbangan termal global melalui mekanisme kompensasi termal selama periode interglasial panjang MIS 11.