Pertumbuhan jumlah perangkat massive Internet of Things (massive IoT)
meningkatkan beban prosedur akses awal ketika banyak perangkat berusaha
mengakses jaringan dalam waktu yang berdekatan. Pada Contention-Based
Random Access (CBRA), penggunaan ruang preamble yang sama oleh seluruh
perangkat dapat menimbulkan collision dan tidak menyediakan mekanisme
diferensiasi bagi trafik yang memerlukan prioritas. Penelitian ini bertujuan
merancang dan mengevaluasi Group-Based Preamble Allocation (GBPA) statis
untuk meningkatkan Success Rate dan menekan access delay kelompok trafik
prioritas event-driven dibandingkan skema baseline, serta mengevaluasi skalabilitas
dan fleksibilitas layanan antarkelompok pada skenario 5G Non-Terrestrial Network
(NTN) berbasis satelit Low Earth Orbit (LEO).
GBPA membagi 54 preamble kontensi menjadi dua subset yang tidak tumpangtindih
untuk kelompok Periodik (P) dan Event-driven (E). Waktu kedatangan akses
kelompok P dimodelkan dengan distribusi Uniform, sedangkan kelompok E
menggunakan distribusi Beta(3,4). Evaluasi dilakukan melalui simulasi tingkat
sistem menggunakan ns-3.47 dan modul 5G-LENA pada satu sel berkas LEO
dengan ketinggian 600 km, radius berkas 25 km, frekuensi pembawa 2 GHz, lebar
pita 10 MHz, model kanal NTN-Rural, kecepatan satelit 7,56 km/s, dan
prekompensasi Doppler 95% (dopplerPreCompAccuracy=0,95). Baseline dan
GBPA menggunakan lingkungan, topologi, komposisi trafik, waktu kedatangan,
timer RACH, serta parameter radio yang sama; perbedaannya hanya terletak pada
metode pemilihan ruang preamble. Nilai ratioE dipilih melalui tahap eksplorasi
lima seed pada rentang 0,67–0,90. Nilai terkecil yang memenuhi kriteria eksplorasi
adalah ratioE=0,70, yang menghasilkan 38 preamble untuk kelompok E dan 16
preamble untuk kelompok P. Konfigurasi ini kemudian diuji menggunakan sepuluh
seed konfirmasi baru pada 4.000 UE dan diuji skalabilitasnya pada 2.000 UE.
Simulasi menggunakan abstraksi tingkat sistem: Msg1 dan Msg2 direpresentasikan
sebagai pesan kontrol NR, sedangkan Msg3 dan Msg4 diselesaikan melalui RRC
ideal. Tundaan propagasi tidak diaktifkan karena implementasi tersebut belum
kompatibel dengan konfigurasi TDD yang digunakan. Oleh sebab itu, hasil
penelitian merepresentasikan perilaku kontensi RACH, residual Doppler pada
gerbang deteksi MAC, dan penjadwalan Msg3 dalam simulator, bukan prosedur
akses NTN fisik secara penuh.
ii
Pada 4.000 UE dengan ratioPUE=0,80, GBPA menghasilkan Success Rate
kelompok E sebesar 98,36% dengan interval kepercayaan 95% [98,01%; 98,72%],
sedangkan baseline menghasilkan 76,90% [75,86%; 77,94%]. Peningkatan
berpasangan sebesar 21,46 poin persentase [20,28; 22,65] signifikan secara statistik
(p=1,5×10?¹¹), sehingga target tingkat keberhasilan dan keunggulan terhadap
baseline tercapai. Konsekuensinya, Success Rate kelompok P turun dari 60,78%
pada baseline menjadi 55,41% pada GBPA. Target penurunan waktu akses tidak
tercapai. Untuk UE kelompok E yang berhasil, mean access delay GBPA adalah
605,30 ms, lebih tinggi daripada baseline sebesar 573,02 ms; selisih berpasangan
sebesar 32,28 ms memiliki interval kepercayaan 95% [-13,17; 77,73], sehingga
tidak terdapat bukti bahwa GBPA menurunkan delay. Ketika jumlah UE meningkat
dari 2.000 menjadi 4.000, Success Rate kelompok E hanya turun 1,59 poin
persentase [1,24; 1,93], sehingga target skalabilitas tercapai pada titik operasi
tersebut. Namun, jumlah keberhasilan total pada 4.000 UE tetap 2.560 UE atau
64,00% pada kedua skema karena keterbatasan alokasi Msg3 pada scheduler.
Dengan demikian, GBPA statis efektif untuk meredistribusikan peluang
keberhasilan kepada kelompok prioritas dan mempertahankan layanannya pada
beban tinggi, tetapi tidak meningkatkan kapasitas agregat dan belum menurunkan
waktu akses.
Perpustakaan Digital ITB