Penelitian ini mengeksplorasi adopsi Learning Management System (LMS) dalam konteks Corporate University dengan menggunakan pendekatan mixed-methods. Studi ini juga memberikan kontribusi praktis bagi organisasi yang sedang mengembangkan universitas korporat dan mengoptimalkan implementasi LMS melalui pendekatan berbasis data serta teori adopsi teknologi.
Tahap pertama penelitian dilakukan melalui survei anonim untuk menilai pengalaman karyawan, hambatan yang dihadapi, serta tingkat usability LMS. Pengukuran usability LMS dilakukan menggunakan standar System Usability Scale (SUS). Sebanyak 102 responden berpartisipasi dalam survei ini. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa LMS dikategorikan pada tingkat “D” berdasarkan skala penilaian Sauro–Lewis. Hal ini mengindikasikan bahwa sistem masih dapat digunakan namun belum optimal dari sisi kemudahan penggunaan.
Menyadari bahwa adopsi teknologi tidak hanya dipengaruhi oleh karakteristik sistem, tetapi juga oleh faktor organisasi dan sosial, tahap kedua penelitian dilakukan melalui wawancara semi-terstruktur untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai persepsi pengguna. Sepuluh karyawan dipilih menggunakan purposive sampling dengan strategi maximum variation, berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan seperti intensitas penggunaan LMS, peran pekerjaan, dan partisipasi dalam aktivitas pembelajaran korporat, dengan koordinasi manajerial yang dibatasi hanya pada fasilitasi akses. Data wawancara dianalisis menggunakan kerangka Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT) yang diperluas melalui analisis tematik.
Hasil analisis tematik menunjukkan bahwa Social Influence merupakan pendorong terkuat partisipasi karyawan dalam aktivitas Corporate University. Tim HR serta atasan langsung secara aktif mendorong partisipasi dan membangun budaya belajar. Dalam konteks korporat, social influence mencakup aspek hierarki organisasi, mekanisme penghargaan, serta peran pimpinan sebagai teladan.
Seluruh responden memandang materi pembelajaran sebagai sesuatu yang berguna dan relevan bagi pengembangan diri mereka, yang menunjukkan bahwa
Performance Expectancy merupakan faktor pendorong adopsi yang kuat. Minat belajar meningkat ketika pengajar memiliki tingkat keahlian yang solid. Meskipun demikian, sebagian besar partisipan menyampaikan kebutuhan akan pelatih eksternal tambahan. Materi yang tersedia dinilai masih terlalu umum, khususnya bagi karyawan dengan latar belakang teknik dan kesehatan, sehingga mereka menuntut konten yang lebih spesifik dan relevan dengan peran pekerjaan masingmasing.
Responden menunjukkan niat belajar yang tinggi dan menilai kelas sebagai pengalaman yang segar serta bermakna secara personal. Hal ini menegaskan bahwa aktivitas pembelajaran dalam Corporate University dapat dipersepsikan bukan hanya sebagai kewajiban, tetapi juga sebagai bentuk “istirahat produktif”. Venkatesh et al. (2003) menyatakan bahwa niat perilaku memengaruhi penggunaan aktual, namun temuan penelitian ini menunjukkan adanya kesenjangan, di mana dalam konteks Corporate University, tingkat niat perilaku yang tinggi tidak sepenuhnya tercermin dalam tingkat penggunaan LMS akibat keterbatasan beban kerja.
Responden menilai Effort Expectancy berada pada tingkat yang memadai, meskipun masih terdapat tantangan terkait usability dan akses melalui perangkat seluler. Beberapa responden survei menyebutkan bahwa hambatan bahasa mengganggu penggunaan LMS dan mengusulkan penggunaan bahasa Indonesia alih-alih bahasa Inggris. Akses seluler dinilai sangat penting dalam lingkungan korporat, mengingat sebagian karyawan memiliki tingkat mobilitas kerja yang tinggi.
Dimensi berikutnya adalah Facilitating Conditions. Ketersediaan perangkat dan konektivitas internet dipersepsikan cukup memadai, namun masih terdapat kelemahan pada aspek penjadwalan, pengingat otomatis, integrasi kalender, serta penyesuaian dengan beban kerja. Dari sisi kualitas informasi dalam LMS, pengguna menilai masih belum mencukupi. Mereka lebih mengandalkan grup WhatsApp untuk memperoleh pembaruan informasi karena informasi di LMS dinilai tidak lengkap atau sulit ditemukan, termasuk riwayat kelas yang telah diikuti. Hal ini menunjukkan bahwa LMS saat ini belum berfungsi sebagai pusat utama aktivitas pembelajaran sebagaimana yang diharapkan. Kelemahan pada dimensi Instructional Assessment juga menghambat adopsi LMS, yang tercermin dari tindak lanjut tugas yang lemah, minimnya umpan balik dari pengajar, serta ketiadaan notifikasi yang menyebabkan peserta tidak menyadari keberadaan tugas.
Temuan penelitian juga menunjukkan bahwa meskipun fleksibilitas pembelajaran digital, seperti konten yang dapat ditonton ulang, diapresiasi oleh peserta, mereka tidak sepenuhnya menyukai format pembelajaran yang sepenuhnya asinkron. Banyak pengguna masih menilai sesi tatap muka atau kelas daring langsung lebih bernilai karena memungkinkan terjadinya interaksi langsung, diskusi, serta tingkat fokus yang lebih baik. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks saat ini, pembelajaran digital berbasis video berfungsi sebagai pelengkap, bukan sebagai metode pembelajaran utama, dengan implikasi terhadap bagaimana LMS seharusnya mendukung keterlibatan dan interaksi pengguna.
Analisis lebih lanjut mengidentifikasi adanya kesenjangan antara peran LMS yang dirancang dengan ekspektasi pengguna, khususnya dalam hal kemudahan penggunaan sistem, kualitas informasi, integrasi dengan proses pembelajaran, serta dukungan instruksional. Akibatnya, LMS belum sepenuhnya berfungsi sebagai platform pembelajaran utama dalam Corporate University, sehingga pengguna masih bergantung pada saluran komunikasi alternatif. Rekomendasi strategis diajukan untuk memperkuat kemudahan penggunaan dan adopsi LMS guna mendukung inisiatif pembelajaran digital yang dapat diskalakan.
Perpustakaan Digital ITB