Agenda transformasi kesehatan nasional Indonesia telah menetapkan Pusat Bedah Robotik di rumah sakit rujukan nasional, namun kesenjangan kritis tetap ada antara ambisi kebijakan dan kesiapan aktual pengguna spesialis. Penelitian ini mengkaji kesiapan adopsi dokter bedah saraf di Indonesia terhadap teknologi robotik bedah asistif dan mengidentifikasi jalur strategis untuk mempercepat adopsi.
Desain penelitian campuran (mixed-method) eksploratif digunakan, mengombinasikan data survei skala Likert dan analisis tematik kualitatif dari 41 dokter bedah saraf aktif di Indonesia, berlandaskan kerangka Difusi Inovasi Rogers. Indeks Kesiapan, dihitung sebagai rasio rata-rata skor faktor pendukung terhadap rata-rata skor hambatan dikali 100, digunakan untuk memperoleh profil kesiapan dan segmentasi adopter.
Temuan menunjukkan kesadaran tinggi (rata-rata 4,199) dengan faktor pendukung (rata-rata 4,138) sedikit melampaui hambatan (rata-rata 3,920). Hambatan finansial mendominasi, sementara dukungan pemerintah dan pelatihan terstruktur merupakan faktor pendukung terkuat. Rata-rata Indeks Kesiapan adalah 108,5, dengan 26,8% Tinggi, 48,8% Sedang, dan 24,4% Rendah. Segmen Early Majority hanya 4,9% dibandingkan ekspektasi 34%, menandakan kondisi difusi arus utama belum terbentuk. Analisis kualitatif mengonfirmasi beban finansial, pengembangan kapabilitas, dan kesiapan teknis sebagai tiga tema dominan.
Empat jalur strategis diusulkan: strategi neuro-first; program pelatihan lokal terstruktur; model pembiayaan hibrid; serta koordinasi ekosistem multi-pemangku kepentingan. Penelitian ini memperluas Difusi Inovasi sebagai alat diagnostik prospektif untuk lingkungan pra-adopsi, memperkenalkan Indeks Kesiapan sebagai instrumen baru, dan menunjukkan bahwa hambatan adopsi utama terletak pada arsitektur finansial dan kapasitas institusional, bukan pada kognisi pengguna.
Perpustakaan Digital ITB