digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Gerardus Widangma Naige.pdf
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

COVER GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB1 GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB2 GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB3 GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB4 GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB5 GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN GERARDUS WIDANGMA NAIGE
Terbatas  Devi Septia Nurul
» Gedung UPT Perpustakaan

Nilai suseptibilitas sebagai salah satu sifat fisis pada batuan menyatakan tingkat atau derajat termagnetisasinya batuan karena pengaruh medan magnetik. Nilai suseptibilitas tersebut dapat diukur menggunakan metode geomagnetik khususnya pada tahap inversi. Tantangan proses inversi geomagnetik adalah keterbatasan jumlah data dan model bawah permukaan yang kompleks. Untuk mengatasi tantangan tersebut, kami melakukan pengembangan program perhitungan forward modeling dan inverse modeling pada inversi deterministik 2D metode Least-square. Pengaplikasian fungsi pembobotan bertujuan mendapatkan hasil inversi yang lebih optimal. Program yang telah dibangun dicoba pada model sintetis berupa bongkahan mineral, intrusi, dan perlapisan batuan yang diwakili kumpulan blok prisma segi empat. Selanjutnya, perhitungan forward modeling yang dibuat pada Matlab R2023a divalidasi dengan cara membandingkannya terhadap perhitungan oleh software GravMagInv2D yang menunjukkan kesesuaian dengan rata-rata korelasi sebesar 98,89% serta rata-rata selisih perhitungan untuk setiap titik pengukuran adalah 0,72 nT. Pada tahap inversi, kami membandingkan metode inversi Least-square dengan fungsi pembobotan dan inversi metode Under-Determined SVD (Singular Value Decomposition) untuk melihat dampak pembobotan terhadap tingkat keberhasilan hasil inversi. Proses perbandingan juga dilakukan pada sudut inklinasi 90?, 60?, dan 30? agar dapat melihat pengaruh nilai inklinasi terhadap respons model. Kemudian kami melakukan modifikasi fungsi pembobotan yang mencakup pembobotan kedalaman, kekompakan, Kernel dan pembobotan noise serta modifikasi nilai kekompakan dan nilai redaman untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa program inversi Least-square dengan fungsi pembobotan dapat melakukan inverse modeling terhadap data sintetis dengan cukup baik khususnya pada nilai inklinasi 90? yang menunjukkan respons anomali berbentuk monopole. Dari penelitian yang telah dilakukan, kami juga mendapatkan kesimpulan bahwa fungsi pembobotan yang cukup ideal untuk diterapkan pada berbagai kasus adalah pembobotan kedalaman, pembobotan kekompakan, dan pembobotan Noise. Untuk memperkuat keyakinan terhadap hasil penelitian sebelumnya, kami juga mengaplikasikan program yang telah disusun terhadap data anomali magnetik regional daerah Gunung Pandan, Jawa Timur. Secara umum, penelitian tersebut menunjukkan hasil yang cukup optimal dalam mengestimasi struktur 2D di bawah permukaan berupa keberadaan intrusi dengan suseptibilitas rata-rata 0,2626 SI pada kedalaman ± 100 meter dan lapisan sedimen di permukaan dengan suseptibilitas rata-rata 0,0034 SI.