digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK ASRI MELATI WIJAYANTI
PUBLIC Dewi Supryati

Bauran energi primer di Indonesia didominasi oleh bahan bakar fosil. Penggunaan bahan bakar fosil yang terus dilakukan mengakibatkan kerusakan lingkungan dalam bentuk emisi karbon dioksida (CO2). Peningkatan penggunaan energi baru terbarukan dapat membantu mengurangi emisi CO2 dimana pemanfaatannya bergantung dengan potensi lokal masing-masing daerah. Potensi energi baru terbarukan di Indonesia sangat melimpah, dimana potensi teknis terbesar berasal dari energi surya. PLTS atap sebagai salah satu teknologi pembangkitan listrik dari energi surya masih sangat terbatas jumlah penggunanya di Indonesia. Keterbatasan jumlah pengguna ini diduga sebagai akibat dari belum diketahuinya persepsi masyarakat Indonesia terhadap penerimaan teknologi PLTS atap. Penelitian terdahulu melihat penerimaan sebagai intensi dan penelitian yang jelberfokus pada penerimaan teknologi PLTS atap di berbagai daerah dalam mempengaruhi penerimaan teknologi PLTS atap di daerah tersebut juga melihat penerimaan sebagai intensi. Dari hasil penelusuran awal didapatkan intensi dapat diintegrasikan dengan ekspektasi dalam melihat penerimaan teknologi, sehingga pada penelitian ini faktor-faktor yang mendorong penerimaan teknologi PLTS atap dilihat melalui intensi dan ekspektasi. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang bagaimana faktor intensi (behavioral intention, BI) dan ekspektasi (behavioral expectation, BE) masyarakat Indonesia dalam mendorong penerimaan teknologi PLTS atap. Intensi dipengaruhi oleh variabel performance expectancy (PE), effort expectancy (EE), social influence (SI) dan price value (PV), sedangkan ekspektasi dipengaruhi oleh variabel social influence (SI), facilitating conditions (FC), government incentives (GI) dan intensi (BI) dengan variabel moderasi umur (AGE), jenis kelamin (GDR), dan pengalaman terhadap teknologi PLTS atap (EXP). Responden penelitian ini adalah individu masyarakat Indonesia yang belum melakukan pemasangan PLTS atap di tempat tinggalnya, dimana individu ini sudah memiliki rumah dan menjadi pengambil keputusan utama di rumahnya. Analisis data dilakukan dengan menggunakan Partial Least Square (PLS) Structural Equation Modelling (SEM). Dari penelitian ini didapatkan 167 responden yang memenuhi kriteria dan disimpulkan bahwa untuk melihat penerimaan teknologi PLTS atap di Indonesia, faktor price value (PV) dan effort expectancy (EE) menjadi faktor pendorong yang signifikan dalam mempengaruhi intensi (BI) dan yang menjadi pendorong utama adalah PV. Faktor social influence (SI) dan intensi (BI) signifikan dalam mempengaruhi ekspektasi (BE) masyarakat Indonesia dalam menerapkan teknologi PLTS atap dan yang menjadi pendorong utama adalah BI. Variabel moderasi umur (AGE) signifikan positif dalam mempengaruhi hubungan antara SI dengan BI, dimana berdasarkan visualisasi analisis simple slope, generasi yang lebih tua lebih mempertimbangkan opini orang disekitarnya dalam mempengaruhi intensi penerapan teknologi PLTS atap. Hubungan ini kemudian dikonfirmasi pada analisis multigrup, dimana hasilnya selaras yaitu untuk hubungan SI terhadap BI terdapat perbedaan yang signifikan antara kategori umur yang lebih muda dengan yang lebih tua.