digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Gina Sofhia Rafiandi
PUBLIC Rita Nurainni, S.I.Pus

Pada tanggal 29 Juli 2019, pada jam 13.14 WIB, terlihat adanya kabut di wilayah DKI Jakarta yang dapat diamati dari gedung-gedung perkantoran. Kemudian, pada jam 06.10 WIB, Jakarta tercatat sebagai kota dengan tingkat polusi tertinggi di dunia. Pada penelitian ini akan menganalisis fenomena kabut asap yang terjadi di wilayah DKI Jakarta pada tanggal 29 Juli 2019 dan hubungannya dengan kondisi cuaca di wilayah DKI Jakarta. Faktor meteorologis, kandungan polutan, dan stabilitas atmosfer juga akan dianalisis. Penelitian ini menganalisis fenomena kabut asap di wilayah DKI Jakarta pada tanggal 29 Juli 2019 dan hubungannya dengan kondisi cuaca serta karakteristiknya meliputi kondisi kualitas udara di wilayah DKI Jakarta. Waktu kajian yang dipilih untuk penelitian ini pada tanggal 29 Juli 2019 dari pukul 06.00 WIB hingga 18.00 WIB. Untuk analisis kondisi cuaca akan ditinjau juga kondisi cuaca satu hari sebelum dan sesudah tanggal 29 Juli 2019. Teridentifikasi adanya potensi kabut asap dari hasil komposit Day Snow-fog RGB dan Aerosol Optical Depth (AOD) di wilayah DKI Jakarta pada tanggal 29 Juli 2019 saat terjadinya fenomena kabut asap tepatnya pada pukul 13.14 WIB. Stabilitas atmosfer pada tanggal 29 Juli 2019 berdasarkan pengamatan dari radiosonde dalam keadaan cenderung stabil sepanjang hari. Kadar polutan seperti SO2, CO, dan NO2 cenderung lebih rendah rata-rata polutan sepanjang bulan Juli 2019 saat terjadi kabut asap. Akan tetapi, kadar O3 (ozon) cenderung tinggi dari rata-rata polutan sepanjang bulan Juli 2019. Hal ini bisa menjadi hasil dari reaksi fotokimia antara bahan kimia dalam udara tercemar dengan sinar matahari. Proses ini menghasilkan ozon dalam jumlah yang lebih tinggi di udara tercemar yang pada gilirannya dapat mendukung terbentuknya kabut asap fotokimia.