digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pulau Sulawesi terletak di salah satu zona tektonik paling rumit di dunia, di mana empat lempeng tektonik utama bertemu: Lempeng Pasifik dari timur, lempeng Laut Filipina dari utara, Lempeng Australia dari selatan dan Lempeng Sunda dari timur. Kondisi geografis tersebut menjadikan Sulawesi sebagai wilayah yang rawan bencana alam salah satunya adalah tsunami. 28 September 2018, terjadi tsunami di daerah Kota Palu dan sekitarnya. Salah satu daerah terdampak adalah Pantai Talise yang merupakan lokasi pada penelitian ini. Penelitian mengenai karakteristik endapan tsunami masih terbatas. Diperlukan penelitian mengenai endapan tsunami, untuk mengetahui karakteristik endapan tsunami sebagai referensi dalam penelitian tsunami. Hal ini berguna untuk mengetahui siklus tsunami lebih lanjut di daerah Pantai Talise, Kota Palu, Sulawesi tengah. Penelitian endapan tsunami 28 September 2018 di Pantai Talise Kota Palu, Sulawesi Tengah berdasarkan data yang didapatkan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dilakukan untuk mengetahui informasi geologi berupa karakteristik endapan tsunami. Tsunami tersebut disebabkan oleh longsor di tepi pantai maupun bawah laut karena aktivitas tektonik. Pada penelitian digunakan analisis berupa analisis deskriptif singkapan endapan tsunami, analisis megaskopis endapan tsunami, analisis granulometri dan analisis lingkungan pengendapan asal endapan tsunami. Berdasarkan hasil penelitian, endapan tsunami di daerah penelitian dikelompokkan menjadi 5 lapisan, yaitu B, C, D, E dan F. Tebal endapan tsunami berkisar antara 15 - 35 cm, terdapat bidang erosi ditandai perbedaan warna/tingkat keterangan warna yang kontras dengan lapisan paleosol di bawahnya, warna endapan tsunami adalah abu kecoklatan. Endapan tsunami berukuran kerikil hingga lempung, memiliki bentuk butir menyudut – membundar, sortasi baik hingga buruk, berupa pasir lepas yang belum tersementasi. Terdapat algae, dan 12 spesies foraminifera bentonik. Terdapat percampuran mikrofauna yang mencerminkan lingkungan pengendapan asal dari endapan tsunami. Terdiri dari foraminifera bentonik dengan lingkungan hidup dari zona transisi, neritik dalam (0-20 m), neritik tengah (20-100 m), neritik luar (100-200 m), upper slope (200- II 500 m), dan lower slope (>500 m). Mekanisme sedimentasi endapan tsunami umumnya berupa traksi yang dihasilkan oleh tiga proses pengendapan. Lapisan endapan tsunami dengan kode sampel B, C, dan E merupakan produk dari traksi atau berupa material laut yang ditransportasi ke darat dan mengerosi lapisan yang sudah ada sebelumnya. Pada endapan tsunami dengan kode sampel D dan F, sistem arusnya berupa suspensi karena energi dari proses pengendapan tsunami kedua dan ketiga sudah habis.