digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Inigo Utu
PUBLIC Open In Flipbook Alice Diniarti

Limbah proses kelapa sawit berupa palm oil mill effluent (POME) berpotensi diolah menjadi biometana. Salah satu kegunaan biometana adalah sebagai bahan bakar alternatif. Selain itu, pengolahan POME menjadi biometana dapat mengurangi dampak pencemaran dari sumber POME. Salah satu proses pemurnian biogas menjadi biometana yaitu absorpsi dengan air bertekanan. Biogas yang masih mengandung banyak CO2 dikontakkan dengan air bertekanan pada kolom absorpsi sehingga CO2 akan larut dalam air dan dapat menghasilkan biometana. Penerapan metode ini telah dilakukan di PLTBg Terantam, Riau. Namun, kendala yang dihadapi berupa munculnya kehadiran pengotor lain (O2 dan N2) akibat penerapan teknologi biosorption untuk menghilangkan kadar sulfur pada umpan biogas. Simulasi dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Aspen HYSYS V10. Basis simulasi berupa komposisi umpan biogas, dimensi kolom, dan kondisi operasi mengacu pada kejadian aktual yang terjadi di PLTBg Terantam. Komposisi O2 dan N2 divariasikan dengan perbandingan konstan sebesar 1:4 berturut-turut. Untuk mencapai spesifikasi komposisi oksigen sebesar 0,1%-mol sesuai dengan Standar Nasional Indonesia (SNI), batas maksimal komposisi O2 dan N2 dalam umpan biogas berturut-turut adalah 0,06%-mol dan 0,24%-mol. Untuk memperluas rentang variasi simulasi, spesifikasi komposisi pengotor mengacu pula pada negara Belanda dan Jerman. Peningkatan rasio L/G dapat meningkatkan kemurnian biometana dengan titik maksimal sebesar 0,362 dengan komposisi CO2 konstan pada nilai sebesar 39,8%-mol. Pengaruh komposisi pengotor pada umpan biogas tidak menjadi masalah terhadap aspek bottling biometana. Berdasarkan technology review, pencegahan masuknya O2 dan N2 lebih feasible dibandingkan alternatif teknologi lainnya.