Limbah proses kelapa sawit berupa palm oil mill effluent (POME) berpotensi diolah
menjadi biometana. Salah satu kegunaan biometana adalah sebagai bahan bakar alternatif.
Selain itu, pengolahan POME menjadi biometana dapat mengurangi dampak pencemaran
dari sumber POME. Salah satu proses pemurnian biogas menjadi biometana yaitu
absorpsi dengan air bertekanan. Biogas yang masih mengandung banyak CO2
dikontakkan dengan air bertekanan pada kolom absorpsi sehingga CO2 akan larut dalam
air dan dapat menghasilkan biometana. Penerapan metode ini telah dilakukan di PLTBg
Terantam, Riau. Namun, kendala yang dihadapi berupa munculnya kehadiran pengotor
lain (O2 dan N2) akibat penerapan teknologi biosorption untuk menghilangkan kadar
sulfur pada umpan biogas.
Simulasi dilakukan dengan menggunakan bantuan perangkat lunak Aspen HYSYS V10.
Basis simulasi berupa komposisi umpan biogas, dimensi kolom, dan kondisi operasi
mengacu pada kejadian aktual yang terjadi di PLTBg Terantam. Komposisi O2 dan N2
divariasikan dengan perbandingan konstan sebesar 1:4 berturut-turut. Untuk mencapai
spesifikasi komposisi oksigen sebesar 0,1%-mol sesuai dengan Standar Nasional
Indonesia (SNI), batas maksimal komposisi O2 dan N2 dalam umpan biogas berturut-turut
adalah 0,06%-mol dan 0,24%-mol. Untuk memperluas rentang variasi simulasi,
spesifikasi komposisi pengotor mengacu pula pada negara Belanda dan Jerman.
Peningkatan rasio L/G dapat meningkatkan kemurnian biometana dengan titik maksimal
sebesar 0,362 dengan komposisi CO2 konstan pada nilai sebesar 39,8%-mol. Pengaruh
komposisi pengotor pada umpan biogas tidak menjadi masalah terhadap aspek bottling
biometana. Berdasarkan technology review, pencegahan masuknya O2 dan N2 lebih
feasible dibandingkan alternatif teknologi lainnya.
Perpustakaan Digital ITB