Tanah gambut merupakan salah satu jenis tanah bermasalah yang memiliki
kompresibilitas dan kandungan air tinggi. Tanah gambut juga memiliki daya
dukung tanah yang rendah sehingga perlu dilakukan perbaikan untuk
meningkatkan daya dukung tanah gambut. Tanah gambut yang berasal dari Kab
Banyu Asin Palembang merupakan jenis tanah gambut berserat (fibrous peat)
dengan kandungan air yang cukup rendah. Tingkat dekomposisi tanah gambut
cukup tinggi hal ini ditandai dengan kondisi lahan gambut yang telah terdergadasi.
Bahan organik yang terkandung juga tinggi. Penggunaan tanah gambut sebagai
dasar konstruksi dikhawatirkan terjadi penurunan yang besar akibat beban
konstruksi diatasnya. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh
penambahan mikroorganisme terhadap pemampatan tanah gambut.
Mikroorganisme yang digunakan berasal dari cairan dekomposer yaitu Bios 44.
Berdasarkan hasil analisis, penambahan mikroorganisme dengan variasi 5%, 10%
dan 15% pada tanah gambut berpengaruh terhadap pemampatan dan
kepadatannya. Kepadatan tanah gambut meningkat seiring besar persentase
penambahan mikroorganisme yang terkandung pada Bios 44. Hal ini ditunjukkan
dengan meningkatnya berat isi kering dan menurunnya kadar air optimum sampel
tanah gambut. Peningkatan berat isi kering terbesar terjadi pada penambahan 15%
Bios 44 yaitu sebesar 1.09 gr/cm3. Penurunan pada tanah gambut campuran
berkurang seiring penambahan persentase Bios 44. Persentasi penurunan tanah
gambut asli sebesar 15.56% sedangkan untuk sampel tanah gambut dengan 15%
Bios 44 besar persentasi penurunannya adalah 10.24%. Pemampatan yang terjadi
berkuranag mencapai 5% dari total penurunan pada tanah gambut asli.
Meningkatnya kandungan CacO3 dalam tanah gambut menyebabkan rongga pori
berkurang sehingga pemampatan yang dihasilkan menurun. Oleh karena itu Bios
44 dapat dijadikan sebagai alternatif untuk meningkatkan parameter tanah gambut
sehingga dapat digunakan sebagai tanah dasar konstruksi.
Perpustakaan Digital ITB