Article Details

AKTIVITAS EKSTRAK HERBA SAMBILOTO, DAUN PEPAYA, DAN BUAH PARE TERHADAP PLASMODIUM FALCIPARUM 2300 RESISTEN KLOROKUIN

Oleh   NURUL PRASETYORINI (NIM 10703042)
Kontributor / Dosen Pembimbing : Pembimbing : Dr. Maria Immaculata Iwo, M.Si. dan Neng Fisheri K., M.Si.
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : Farmasi
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek :
Kata Kunci : Ekstrak, Herba Sambiloto, Daun Pepaya, Buah Pare, Plasmodium Falciparum 2300, Resisten Klorokuin
Sumber :
Staf Input/Edit : Rizki Aprianti  
File : 8 file
Tanggal Input : 2008-04-29 09:13:46

Plasmodium falciparum 2300 dari penyimpanan beku dikultur secara in vitro menurut metode yang dikembangkan oleh Trager dan Jensen (1976). Ekstrak etanol dan ekstrak air herba sambiloto [Andrographis paniculata (Burm.f.) Nees], daun pepaya (Carica papaya L.), dan buah pare (Momordica charantia L.) dalam beberapa konsentrasi (7,81-500 μg/mL) dicampur dengan suspensi parasit pada lempeng sumur mikro dan diinkubasi pada suhu 37 derajat C selama 30 jam dalam candle jar. Hasil menunjukkan ekstrak air dan ekstrak etanol herba sambiloto, daun pepaya, dan buah pare menghambat pertumbuhan skizon Plasmodium falciparum 2300. Konsentrasi hambat 50 (KH50) berturut-turut untuk ekstrak etanol dan ekstrak air herba sambiloto: 2,87 μg/mL dan 74,80 μg/mL; daun pepaya: 12,29 μg/mL dan 11,81 μg/mL; dan buah pare: 12,68 μg/mL dan 75,48 μg/mL. Berdasarkan KH50, ekstrak yang paling potensial untuk dikembangkan sebagai obat herbal untuk mengobati malaria falciparum adalah ekstrak etanol herba sambiloto (KH50< 5 μg/mL).