Article Details

ANALISIS KINERJA PERON STASIUN MRT SENAYAN JAKARTA PADA MASA PANDEMI COVID-19 MENGGUNAKAN MODEL MIKROSIMULASI

Oleh   Keza Harsono [25020026]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Ir. Idwan Santoso, M.Sc., DIC., Ph.D.;Ir. R. Sony Sulaksono Wibowo, M.T, Ph.D.;Dr.Eng. Febri Zukhruf, S.T., M.T.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTSL - Teknik Sipil
Fakultas : Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL)
Subjek :
Kata Kunci : COVID-19, stasiun, peron, kereta, penumpang, mikrosimulasi, jarak
Sumber :
Staf Input/Edit : Alice Diniarti  
File : 1 file
Tanggal Input : 23 Jun 2022

Sejak Maret tahun 2020, penyakit Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) telah menyebar di Indonesia dengan tingkat penyebaran yang tinggi. Salah satu upaya yang dilakukan dalam mengurangi penyeberan virus adalah dengan penerapan jaga jarak di fasilitas umum. Penerapan jaga jarak di stasiun sebagai salah satu fasilitas umum dapat dianalisis melalui model mikrosimulasi dengan perangkat lunak PTV VISSIM, dengan parameter kinerja jarak antar penumpang yang menggambarkan penerapan jaga jarak di stasiun. Model mikrosimulasi dilakukan di peron Stasiun MRT Senayan Jakarta sebagai lokasi studi, dengan kalibrasi terhadap perilaku pejalan kaki yang divalidasikan terhadap karakteristik berjalan penumpang yang disurvei. Model mikrosimulasi dilakukan pada kondisi eksisting saat pandemi, maupun dengan skenario arus maksimum dengan adanya alternatif perubahan kebijakan. Berdasarkan hasil mikrosimulasi pada kondisi eksisting, jarak antar penumpang sudah jauh lebih tinggi dari batas jaga jarak yang disyaratkan, menggambarkan jaga jarak masih terimplementasi pada stasiun. Pada skenario arus penumpang maksimum, rata-rata jarak antar penumpang lebih kecil dari batas jaga jarak yang disyaratkan, sehingga dibutuhkan beberapa perubahan alternatif kebijakan di stasiun maupun kereta. Berdasarkan hasil mikrosimulasi pada setiap alternatif, pengurangan headway, penambahan kapasitas kereta, penambahan durasi naik turun penumpang, dan perubahan fungsi pintu kereta dapat memperbaiki kinerja jarak antar penumpang dalam usaha untuk mengurangi penyebaran virus di stasiun pada kondisi penumpang yang ramai. Perubahan fungsi pintu kereta akan efektif dilakukan jika diterapkan pada kondisi penumpang yang tidak terlalu ramai, saat diterapkan bersamaan dengan perubahan alternatif kebijakan lainnya.