Article Details

AKTIVITAS ANTIHIPERURISEMIA EKSTRAK ETANOL PHYLLANTHUS EMBLICA L. DAN MYRMECODIA BECCARII HOOK.F. PADA KONDISI HIPERURISEMIA AKUT DAN KRONIS SECARA IN VIVO

Oleh   Popy Nurul Fauziah [11618029]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. apt. Neng Fisheri Kurniati, S.Si., M.Si.; Dr. apt. Muhamad Insanu, S.Si. M.Si.
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : SF - Farmasi Klinik dan Komunitas
Fakultas : Sekolah Farmasi (SF)
Subjek :
Kata Kunci : Antihiperurisemia, in vivo, Malaka, Sarang semut
Sumber :
Staf Input/Edit : yana mulyana  
File : 1 file
Tanggal Input : 21 Jun 2022

Prevalensi penyakit asam urat di Indonesia adalah ±18%. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sebagai tanaman obat salah satunya berpotensi untuk menurunkan kadar asam urat. Pada penelitian ini dilakukan pengujian untuk tanaman yang memiliki aktivitas antihiperurisemia secara urikostatik yaitu malaka (Phyllanthus emblica L.) dan sarang semut (Myrmecodia beccariiI Hook.f.). Penelitian diawali dengan penapisan fitokimia pada kedua ekstrak. Kemudian dilakukan penetapan kadar flavonoid dan kromatografi lapis tipis (KLT). Pengujian secara in vivo dilakukan menggunakan tikus galur Wistar jantan dengan menggunakan pemodelan hiperurisemia akut dan kronis. Kondisi hiperurisemia akut dilakukan dengan memberikan sediaan ekstrak dan obat dalam satu kali pemberian. Sedangkan kondisi hiperurisemia kronis dilakukan dengan memberikan sediaan ekstrak dan obat secara berulang selama 14 hari. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa pada penapisan fitokimia P. emblica terdapat senyawa golongan flavonoid, tanin, saponin, triterpenoid dan alkaloid. Sedangkan pada M. beccarii terdapat senyawa golongan flavonoid, tanin, kuinon, dan steroid. Pada penetapan kadar flavonoid total hasil yang didapat pada sampel ekstrak etanol M. beccarii memiliki kadar flavonoid total lebih rendah dibandingkan dengan P. emblica. Dalam pengujian KLT terlihat terdapat senyawa golongan flavonoid pada kedua ekstrak. Pada pengujian in vivo kondisi hiperurisemia akut pada menit ke-150 sampel P. emblica 150, 300 mg/kgBB dan M. beccarii 300 mg/kgBB memiliki perbedaan bermakna dengan kontrol positif. Sedangkan pada kondisi hiperurisemia kronis pada hari ke-28 hanya sampel P. emblica 150 mg/kgBB dan M. beccarii 150 mg/kgBB yang memiliki perbedaan bermakna dengan kontrol positif.