Article Details

SENSE OF PLACE KAWASAN JERON BETENG YOGYAKARTA

Oleh   Emmelia Tricia Herliana [35216001]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Prof. Dr.-Ing. Ir. Himasari Hanan, MAE;Dr.Eng. Hanson Endra Kusuma, S.T., M.Eng.;
Jenis Koleksi : S3-Disertasi
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
Subjek :
Kata Kunci : makna tempat, place attachment, place identity, place dependence, sense of place
Sumber :
Staf Input/Edit : Perpustakaan Prodi Arsitektur  
File : 1 file
Tanggal Input : 28 Jul 2021

Suatu tempat adalah produk budaya dan sejarah, tidak hanya dalam bentuk wujud fisik, tetapi juga di dalam makna. Wujud fisik yang saat ini ada adalah hasil dari perjalanan waktu dan kristalisasi nilai-nilai budaya yang terbentuk sepanjang perjalanan waktu. Aspek yang terlihat merefleksikan aspek-aspek yang tak terlihat. Wujud fisik yang terlihat merupakan representasi dari bekerjanya kekuatan atau kekuasaan di masa lalu dan masa kini. Kekuatan ini juga menentukan nilai-nilai yang berlaku di dalam masyarakat pada saat itu. Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada masa lalu memiliki peran yang sentral sebagai kerajaan. Sebagai sebuah Kasultanan, ia tidak hanya memiliki kekuasaan duniawi, tetapi juga kekuasaan spiritual. Di masa lalu, perannya berpengaruh dalam segala aspek kehidupan rakyatnya, terutama di Jeron Beteng sebagai pusat kerajaan, yaitu segi pemerintahan, sosial, politik, ekonomi, seni budaya, dan agama. Namun pada masa kini, sejalan dengan perkembangan jaman, pengaruhnya tidak lagi mencakup seluruh aspek kehidupan rakyat. Yang masih dapat dipertahankan adalah peran dari segi seni budaya. Kawasan Jeron Beteng memiliki peran yang penting di dalam melestarikan akar budaya yang berpusat di Keraton Yogyakarta. Pelestarian pusat budaya ini memerlukan peran dari masyarakat penghuni Jeron Beteng karena mereka yang menjadi pendukung dan pelaku tradisi. Konteks Kawasan Jeron Beteng sebagai pusat kerajaan di masa lalu mempengaruhi adanya strata sosial di dalam masyarakat. Masyarakat penghuni Jeron Beteng terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok masyarakat kerabat Keraton (keturunan Sultan), abdi dalem, dan masyarakat umum. Ketiga kelompok ini memperlihatkan adanya dinamika di dalam aspek yang menentukan sense of place. Pertanyaan yang dieksplorasi di dalam penelitian ini adalah: 1) Komponen tentang tempat (aktivitas, lingkungan fisik, dan konsepsi) mana yang lebih dominan dalam pembentukan sense of place masyarakat penghuni Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta?, dan 2) Dimensi sense of place (place identity, place attachment, dan place dependence) mana yang paling berpengaruh dalam pembentukan sense of place bagi masyarakat penghuni Jeron Beteng Yogyakarta? Tujuan penelitian ini adalah: 1) Menemukan peran dari komponen tempat yang memberikan kekhasan dan keunikan Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta, 2)Mengungkapkan aspek-aspek yang mempengaruhi sense of place masyarakat penghuni Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta, dan 3)Mengungkapkan proses terjadinya sense of place masyarakat penghuni Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta. Survey dan pengamatan dilakukan terhadap tiga komponen tempat, yaitu lingkungan fisik, aktivitas, dan konsepsi tempat. Pendekatan analisis dipandu oleh pendekatan penelitian yang memandang sense of place sebagai sikap terhadap lingkungan fisik, sosial, dan budaya dengan diarahkan oleh literatur bahwa sikap adalah respons terhadap suatu stimulus yang meliputi aspek afektif, kognitif, dan konatif. Aspek citra fisik merupakan penambahan untuk mencakup persepsi masyarakat terhadap lingkungan fisik tempat tinggalnya yang berkaitan dengan Keraton. Dimensi sense of place, yaitu place attachment, place identity, dan place dependence dapat dilihat sebagai respons afektif, kognitif, dan konatif. Aspek citra fisik melekat pada persepsi masyarakat mengenai lingkungan fisik tempat tinggalnya. Penelitian menemukan adanya pengaruh dari pemerintahan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat di masa lalu, terhadap makna tempat. Sistem kosmologi yang diterapkan pada masa lalu menentukan hirarki serta tata ruang dan bangunan di Jeron Beteng. Meskipun hirarki ruang telah mengalami perubahan, keberlanjutan karakter tempat melalui keberadaan Keraton sebagai pusat budaya, dinding benteng sebagai pembatas, figur-figur landmark, dan keberadaan Dalem Pangeran memberikan pengaruh pada perasaan psikologis masyarakat yang menimbulkan place attachment. Rasa tenteram, berada dalam suasana kekeluargaan, dan perasaan menjadi bagian dari tempat dimaknai dengan cara yang beragam oleh masyarakat yang secara implisit memiliki status sosial dan sejarah kepemilikan atau penggunaan lahan tempat tinggal yang berbeda. Keterkaitan place attachment, place identity, dan place dependence yang mengekspresikan nilainilai sosial dan budaya Jawa yang diyakini masyarakat sangat mempengaruhi sense of place. Upaya menjaga keselarasan mikrokosmos dan makrokosmos mendorong masyarakat dapat hidup rukun dan saling menghormati dalam komunitas yang guyub. Metode analisis isi menghasilkan 19 kategori yang disintesiskan menjadi 5 tema, yaitu: 1) Berpusat pada tradisi/Keraton, 2) Pemahaman ‘di dalam’, 3) Kehalusan berperilaku (alus), 4) Mendayagunakan tradisi (nguri-uri budaya), dan 5) Komunitas yang guyub. Interpretasi terhadap kelima tema menemukan bahwa terdapat dua unsur yang berpengaruh terhadap sense of place Kawasan Jeron Beteng Yogyakarta, yaitu: 1) citra karisma Sultan, dan 2) keterlibatan tradisi di dalam aktivitas keseharian masyarakat Jeron Beteng Yogyakarta