Article Details

PENENTUAN ZONA LEMAH PADA TEROWONGAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE HVSR

Oleh   Haris Hartsa Naufal [22317007]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr.Eng. Ir. T.A. Sanny, M.Sc.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : FTTM - Teknik Geofisika
Fakultas : Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan (FTTM)
Subjek :
Kata Kunci : Mikrotremor, Nakamura Method, Metode HVSR, OpenHVSR.
Sumber :
Staf Input/Edit : Devi Septia Nurul  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-09-30 11:16:56

Terowongan merupakan infrastrukrtur yang menghubungkan dua tempat melalui jalur bawah tanah. Dikarenakan penempatannya yang berada di bawah tanah, terwongan memiliki risiko seperti kerutunhan atau failure diakibatkan pelemahan pada bagian terwongan. Risko ini dapat menyebabkan kerugian baik materil maupun kehilangan nyawa manusia. Oleh karena itu, diperlukan adanya monitoring atau pengamatan pada terowongan tersebut agar hal yang semacam itu tidak terjadi. Metode geofisika bisa menjadi salah satu solusi untuk mengerjakan hal tersebut. Diantara banyaknya metode geofisika yang ada, metode mikrotremor bisa menjadi salah satu metode yang dapat mengerjakan hal ini. Untuk menguji kefektifan metode ini, dilakukan penelitian pada terwongan penghubung kampus utama ITB dengan fasilitas SARAGA di ITB. Terowongan ini terdapat di bawah jalan raya yang di sana terdapat banyak kendaraan berlalu-lalang. Dalam pengukuran data, stasiun pengukuran diletakan di dua tempat, yaitu di atas permukaan dan juga di dalam terowongan. Di dalam terwongan, setiap stasiun pengukuran diletakan setiap 6 meter di sepanjang dinding terowongan. Di titik yang sama juga diukur di permukaan tanah. Setelah mendapatkan data, dilakukan processing. Processing data mentah dialkukan dengan menggunakan software Geopsy. Dari proses tersebut didapatkan kurva HVSR, Frekuensi Natural, dan juga nilai amplifikasi dan dari kedua nilai tersebut akan didapatkan ideks Kerentanan. Selanjutnya dilakukan plotting nilai-nilai yang didapat, dari sana akan didapatkan peta kontor 2D dari nilai-nilai yang didapat. Kemudian, peta 2D yang didapat diinterpolasi untuk mendapatkan model 3D. Selain itu juga, kurva HVSR yang didapat akan diinversikan untuk mendapatkan model 1D kecepatan Vp dan Vs dengan menggunakan program OpenHVSR. Akhirnya, dikatahui bahwa terdapat beberapa tempat anomali baik anomali positif maupun anomali negatif. Tempat yang memiliki anomali postif adalah stasiun 9 sampai stasiun 12 yang berada di dalam terwongan anomali ini juga terlihat pada data yang diambil di permukaan. Selanjutnya, tempat yang memiliki anomali negatif adalah stasiun 4 dan 5. Anomali positif kemungkinan disebabkan oleh area terowongan yang telah diperkuat dengan tujuan untuk menerima stress yang berasal dari jalan. Sementara daerah yang memiliki anomali negatif adalah area yang tidak diperkuat dan letaknya paling dekat dengan sumber stress sehingga menyebabkan tempat tersebut lebih rentan terhadap kerusakan.