Article Details

ANALISIS KARAKTERISTIK ENDAPAN BAUKSIT LATERIT DAN UNSUR TANAH JARANG AREA BUKIT 16 DAN BUKIT 30, DAERAH TAYAN, KABUPATEN SANGGAU, KALIMANTAN BARAT

Oleh   Hugo Sindhunata [12016030]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr. Ir. Bambang Priadi
Jenis Koleksi : S1-Tugas Akhir
Penerbit : FITB - Teknik Geologi
Fakultas : Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB)
Subjek :
Kata Kunci : Kata kunci : Endapan Bauksit Laterit, REE, Batuan Dasar, Kalimantan Barat
Sumber :
Staf Input/Edit : Irwan Sofiyan  
File : 1 file
Tanggal Input : 2020-06-28 22:37:25

Generic placeholder image
ABSTRAK Hugo Sindhunata

Terbatas
» ITB


Daerah penelitian secara administratif terletak di IUP (Izin Usaha Pertambangan) Tayan milik PT.ANTAM (Aneka Tambang) UBPB (Unit Bisnis Pertambangan Bauksit), Kabupaten Sanggau, Provinsi Kalimantan Barat. Koordinat daerah penelitian terletak pada 404522 – 409060 mT dan 9986788 -9991574 mU zona 49S datum WGS1984 serta memiliki luas 21,5 km2. Pengambilan sampel bauksit laterit terdapat pada dua area yaitu Bukit 16 dan Bukit 30. Area Bukit 16 berada pada koordinat 404740 – 405469 mT dan 9990467 - 9991396 mU dan Bukit 30 berada pada 407475 – 407827 mT dan 9987395 - 9987754. Berdasarkan pembagian satuan fisiografi Lembar Pontianak/Nangataman, daerah penelitian termasuk dalam satuan medan rendah, berbukit tertoreh rapat yang tersusun oleh granit dan setempat batuan gunungapi. Stratigrafi daerah penelitian berdasarkan modifikasi dari PT.ANTAM dari tua ke muda terdiri dari 4 satuan batuan, yaitu Satuan Filit, Satuan Granodiorit, Satuan Diorit Kuarsa, dan Endapan Rawa. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik endapan bauksit laterit area Bukit 16 dan 30 serta menentukan hubungannya dengan kelimpahan REE (Rare Earth Elements). Data yang digunakan berupa data DEM (Digital Elevation Model), lapangan, dan assay. Data lapangan terdiri dari 3 sampel batuan dan 10 titik testpit dengan 40 sampel bauksit laterit. Data assay terdiri dari data XRF (X-ray Fluorescence) dan ICP-OES (Inductively Coupled Plasma- Optical Emission Spectrometry) (18 sampel bauksit laterit dan 1 sampel batuan dasar area Bukit 16 dan 18 sampel bauksit laterit dan 1 sampel batuan dasar area Bukit 30). Karakteristik endapan bauksit laterit pada Bukit 16 dan 30 secara umum dibedakan berdasarkan karakteristik batuan dasar. Endapan bauksit laterit pada area Bukit 16 berasal dari batuan granodiorit sedangkan area Bukit 30 berasal dari batuan diorit kuarsa serta memiliki 3 tahapan pembentukan, yaitu tahap pembentukan zona lempung, zona bauksit, dan zona latosol. Zona lempung dicirikan dengan kandungan SiO2 dan R-SiO2 relatif tinggi dengan derajat laterisasi lemah, zona bauksit dicirikan kandungan Al2O3 dan Fe2O3 relatif tinggi dengan derajat laterisasi sedang – kuat, dan zona latosol dicirikan dengan kandungan TiO2 relatif tinggi dengan derajat laterisasi lemah. Umumnya bauksit pada area Bukit 16 adalah Kaolinitic Bauxite, Bauxitic Kaolinite, dan Bauxite sedangkan Bukit 30 umumnya adalah Laterite dan Bauxite. Secara umum, kelimpahan REE pada endapan bauksit laterit area Bukit 16 dan 30 menunjukkan distribusi yang merata pada setiap zona, pengayaan relatif ?REE(La-Lu) terhadap batuan dasar dan kandungan ?LREE(La-Eu) yang lebih tinggi dari ?HREE(Gd-Lu). Berdasarkan analisis Koefisien Pearson, pengontrol utama ?LREE(La-Eu) dan ?HREE(Gd-Lu) pada Bukit 16 adalah mineral-Fe sedangkan pada Bukit 30 adalah mineral P dan Sr, lalu pengontrol utama Sc pada Bukit 16 dan 30 adalah mineral Fe.