Article Details

Perkembangan Bentuk Hunian Tradisional Batak Toba Studi Kasus: Desa Jangga Dolok dan Jangga Toruan, Kabupaten Toba Samosir

Oleh   Fitri Meisyara [25211004]
Kontributor / Dosen Pembimbing : Dr.-Ing. Ir. Himasari Hanan, MAE;Indah Widiastuti, S.T., M.T., Ph.D.;
Jenis Koleksi : S2 - Tesis
Penerbit : SAPPK - Arsitektur
Fakultas : Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK)
Subjek : Residential & related buildings
Kata Kunci : Hunian tradisional, perubahan, Batak Toba
Sumber :
Staf Input/Edit : hidayat   Ena Sukmana
File : 9 file
Tanggal Input : 2019-01-18 13:20:17

Rumah tradisional diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi sehingga menjadi bagian dari tradisi berhuni suatu kelompok suku bangsa tertentu. Saat ini bangunan-bangunan tradisional seperti ini mulai menghilang. Beberapa bangunan tradisional masih berdiri namun dengan perubahan pada beberapa bagiannya. Hal ini disebabkan oleh perubahan gaya hidup masyarakat tradisional menjadi modern. Seiring berjalannya waktu, kebutuhan dan aktivitas manusia semakin bertambah dan mengakibatkan bertambahnya kebutuhan akan ruang yang kemudian merubah bentukan tatanan fisik dari tipologi bangunan yang ada. Batak Toba merupakan salah satu suku bangsa yang paling menonjol di Sumatra Utara, dengan wilayah persebaran etnis yang relatif luas yang memiliki keunikan berupa bentukan arsitektur berupa hunian yang tersusun mengikuti suatu pola khas yang sarat dengan tata nilai dan adat istiadat yang berlaku. Bagi masyarakat Batak Toba perkampungan dan rumah tradisional tidak hanya merupakan tempat fungsional untuk bernaung tetapi sebagai sebuah objek bermakna filosofis mencerminkan tatanan kehidupan masyarakatnya. Saat ini keberadaan rumah tradisional Batak Toba mulai berkurang. Hal ini dikarenakan rumah tradisional mulai ditinggalkan oleh penghuninya. Kalaupun masih tetap dihuni, sudah terjadi perubahan pada beberapa bagian bangunan untuk menyesuaikan diri dengan kebutuhan penghuninya. Studi bertujuan untuk menjabarkan karakteristik hunian tradisional Batak Toba di Kabupaten Toba Samosir serta proses perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan perkembangan teknologi, pertumbuhan ekonomi, sistem sosial, budaya dan politik masyarakat. Tujuan ini akan dicapai dengan cara memetakan perubahan yang terjadi pada hunian masyarakat Batak Toba meliputi karakteristik fisik bangunan, organisasi ruang, dan pola bermukim serta faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya perubahan pada hunian di ketiga perkampungan tradisional Batak Toba yang diamati. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan dokumentasi objek penelitian serta wawancara dengan para penghuni. Selain itu dilakukan studi kepustakaan untuk mengetahui tentang budaya dan tata nilai Batak Toba serta konsep rumah dan perkampungan tradisional Batak Toba. Penelitian dilakukan dengan pendekatan analisis deskriptif, yaitu menguraikan fenomena perubahan yang terjadi pada unit hunian di perkampungan tradisional Batak Toba. Terdapat dua kecenderungan bentuk perubahan yang terjadi yaitu penambahan (addition) dan pengurangan melalui penghancuran (substraction demolition). Perubahan yang terjadi pada hunian di permukiman tradisional Batak Toba terjadi karena perubahan pada budaya masyarakat yang disebabkan oleh masuknya pengaruh dari luar lingkungan permukiman tradisional Batak Toba. Pendidikan dan gaya hidup barat mempengaruhi adat istiadat masyarakat Batak Toba yang awalnya diperkenalkan oleh misionaris dan Belanda saat masa penjajahan Indonesia. Perubahan pada sistem kepemimpinan mempengaruhi lingkungan di dalam huta, sehingga huta menjadi lebih terbuka. Perkembangan teknologi seperti pembangunan infrastruktur jalan menyebabkan semakin mudahnya pencapaian dari dan ke perkampungan tradisional sehingga memungkinkan untuk penerapan teknologi dan material baru pada bangunan. Terdapat kecenderungan bahwa bangunan tradisional tidak lagi dimanfaatkan sebagai fungsi hunian, karena mayoritas kegiatan di dalam bangunan lebih banyak berlangsung pada bangunan tambahan. Hal ini menyebabkan kebanyakan bangunan tradisional yang terdapat di perkampungan yang diamati dalam kondisi tidak terawat dan mulai rusak. Hal ini memperlihatkan bahwa rumah tradisional tidak lagi menjadi fungsional melainkan hanya sebagai elemen simbolis suatu perkampungan tradisional. Perubahan yang terjadi pada hunian tradisional dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi penghuni, sistem kemasyarakatan yang berlaku pada suatu kampung, perkembangan sektor pariwisata, keahlian membangun/ teknologi bangunan, pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah daerah