digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Semarang adalah ibukota Provinsi Jawa Tengah yang merupakan kota metropolitan terbesar kelima di Indonesia dengan jumlah penduduk sebanyak 1.634.600. Seiring dengan laju pembangunan Kota Semarang dan pertumbuhan penduduk yang pesat telah menyebabkan perubahan pada kondisi fisik kota, salah satunya adalah terjadinya fenomena penurunan tanah. Semarang telah lama dikenal sebagai kota langganan banjir. Banjir yang terjadi disebabkan oleh hujan yang terus menerus atau dapat pula disebabkan oleh pasang air laut (banjir rob) dan faktor lain yang mempengaruhi bencana banjir adalah fenomena penurunan tanah. Penelitian ini membahas tentang fenomena penurunan tanah dan korelasinya dengan banjir yang terjadi di Kota Semarang. Metodologi dalam penelitian ini adalah studi literatur, pengolahan data survei GPS tahun 2012 – 2016, pengolahan data sebaran banjir, dan menggabungkan peta sebaran banjir dan penurunan tanah. Pemantauan penurunan tanah di Kota Semarang dilakukan sejak 1990 dengan menggunakan metode sipat datar, PS InSAR, gaya berat mikro, dan survei GPS. Pada periode 2012 – 2016 laju penurunan tanah di wilayah Semarang memiliki interval (0,6 – 15,3) cm/tahun. Korelasi antara fenomena banjir periode 2010 dan 2012 dengan fenomena penurunan tanah periode 2008 – 2010 dan 2008 – 2012 yang terjadi di wilayah Semarang memiliki persentase 49,2% dan 41,3%, yaitu daerah mengalami terjadinya banjir dan terjadinya penurunan tanah. Berdasarkan persentase tersebut, daerah yang terjadi banjir dan mengalami fenomena penurunan tanah menunjukan bahwa penurunan tanah mampu memberikan andil yang cukup besar dalam dampak bencana banjir di Semarang. Namun, terjadinya penurunan tanah tidaklah selalu dominan dalam memberikan dampak terhadap bencana banjir, tetapi terdapat faktor-faktor lain yang mempengaruhinya.