Kota Semarang merupakan wilayah perkotaan dengan tingkat kerentanan gempa
yang tinggi akibat pengaruh kombinasi sumber gempa sesar kerak dangkal di
sekitar kota dan gempa subduksi megathrust di selatan Pulau Jawa, serta kondisi
geologi bawah permukaan yang heterogen. Penelitian ini bertujuan untuk
memutakhirkan pemodelan bahaya gempa dan respons tapak seismik Kota
Semarang melalui pendekatan terintegrasi berbasis karakterisasi kecepatan
gelombang geser (Vs) multiskala.
Karakterisasi tapak lokal dilakukan dengan mengintegrasikan hasil pengukuran
Multichannel Analysis of Surface Waves (MASW) hingga kedalaman 30 m,
microtremor array metode Spatial Autocorrelation (SPAC) untuk struktur lapisan
dalam hingga engineering bedrock, analisis mikrotremor HVSR untuk periode
dominan tanah (Tdom), serta data bor sebagai validasi. Analisis bahaya gempa
probabilistik (PSHA) dilakukan pada kondisi engineering bedrock dengan
probabilitas terlampaui 2% dalam 50 tahun, diikuti analisis deagregasi untuk
mengidentifikasi sumber gempa pengendali pada berbagai perioda spektral.
Respons dinamik tanah dimodelkan menggunakan analisis perambatan gelombang
nonlinier satu dimensi (NERA) dengan masukan akselerogram hasil spectral
matching yang konsisten dengan karakteristik seismotektonik wilayah penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa amplifikasi getaran tanah di Kota Semarang
bersifat bergantung perioda dan tidak semata-mata dikontrol oleh keberadaan
tanah lunak dengan sedimen tebal. Pada perioda pendek hingga menengah (T ?
0–0,2 s), amplifikasi signifikan dapat terjadi pada tapak dengan nilai VS30 sedang
hingga rendah dan kedalaman engineering bedrock relatif dangkal akibat
pengaruh gempa sesar kerak dangkal berjarak dekat serta kontras impedansi dan
kompleksitas struktur bawah permukaan. Sebaliknya, pada perioda panjang (T ?
1,0 s), amplifikasi lebih dominan berkembang pada zona dengan sedimen tebal
dan periode dominan tanah yang panjang akibat mekanisme resonansi dan respons
cekungan, terutama ketika dipengaruhi oleh gempa subduksi bermagnitudo besar.
Temuan ini menegaskan bahwa evaluasi bahaya gempa dan mikrozonasi seismik
di Kota Semarang perlu mempertimbangkan interaksi antara karakteristik sumber
gempa, kandungan perioda gelombang gempa, dan parameter tapak lokal secara
terpadu, dan tidak dapat direpresentasikan secara memadai hanya berdasarkan
klasifikasi VS30.
Perpustakaan Digital ITB