digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang paling sering terjadi di wilayah perkotaan dan menimbulkan dampak sosial, ekonomi, serta lingkungan yang signifikan. Kota Bandung merupakan salah satu wilayah perkotaan di Indonesia yang memiliki kerentanan tinggi terhadap kejadian banjir akibat kombinasi faktor topografi cekungan, kepadatan pembangunan, serta meningkatnya limpasan permukaan akibat urbanisasi. Kondisi tersebut menuntut adanya pendekatan analisis spasial yang mampu mengidentifikasi wilayah dengan probabilitas bahaya banjir secara lebih objektif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor-faktor pengkondisi terhadap kejadian banjir serta memetakan klasifikasi probabilitas bahaya banjir di Kota Bandung menggunakan pendekatan statistik berbasis model Binary Logistic Regression (BLR) dalam lingkungan Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode penelitian dilakukan melalui beberapa tahapan utama yang meliputi pengumpulan dan pra-pemrosesan data, normalisasi variabel, pemodelan statistik, serta validasi model. Variabel dependen berupa inventarisasi kejadian banjir historis yang diperoleh dari data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan portal berita pada tahun 2020 dan 2024. Variabel independen terdiri dari tujuh faktor pengkondisi, yaitu Topographic Wetness Index (TWI), elevasi, kemiringan lereng, curah hujan, NDVI, jarak dari sungai, dan jarak dari jalan. Seluruh variabel dianalisis dalam format raster dan dinormalisasi menggunakan metode min–max untuk menyamakan skala data. Model BLR kemudian digunakan untuk mengestimasi hubungan antara faktor-faktor tersebut dengan probabilitas kejadian banjir pada setiap piksel wilayah studi. Sebelum pemodelan dilakukan uji multikolinearitas untuk memastikan independensi variabel. Hasil model selanjutnya divalidasi menggunakan Receiver Operating Characteristic (ROC) dan Area Under the Curve (AUC) serta matriks akurasi untuk menilai kemampuan prediktif model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor topografi dan hidrologi memiliki pengaruh yang signifikan terhadap distribusi bahaya banjir di Kota Bandung. Variabel seperti TWI, elevasi rendah, kemiringan lereng landai, serta kedekatan dengan sungai menunjukkan kontribusi yang kuat terhadap peningkatan probabilitas kejadian banjir. Sementara itu, faktor lingkungan seperti NDVI dan jarak dari jalan juga berperan dalam memodifikasi pola limpasan permukaan akibat perubahan penggunaan lahan perkotaan. Model BLR berhasil menghasilkan peta probabilitas bahaya banjir yang menunjukkan variasi tingkat kerentanan secara spasial di seluruh wilayah Kota Bandung. Hasil validasi model melalui analisis ROC menunjukkan bahwa model memiliki kemampuan diskriminatif yang baik hingga sangat baik dalam memprediksi lokasi kejadian banjir yang dibuktikan dengan selisih nilai AUC pada model tahun 2020 dan 2024 sebesar 0.068 dan selisih akurasi sebesar 0.057, sehingga hasil selisih tersebut dapat dianggap memiliki kinerja prediktif yang andal untuk analisis bahaya banjir serta mampu memprediksi bahaya banjir. Berdasarkan hasil analisis, penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan BLR berbasis SIG mampu memberikan pemetaan bahaya banjir yang lebih objektif dan berbasis probabilitas dibandingkan pendekatan skoring atau overlay konvensional. Model yang dihasilkan tidak hanya mengidentifikasi lokasi rawan banjir, tetapi juga memberikan informasi mengenai tingkat kemungkinan terjadinya banjir pada setiap unit spasial. Peta probabilitas yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai dasar ilmiah dalam perencanaan tata ruang, mitigasi bencana, serta pengambilan keputusan kebijakan pengelolaan lingkungan di Kota Bandung. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi metodologis dalam penerapan model statistik multivariat untuk analisis bahaya banjir di lingkungan perkotaan.