digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK_Yusrina Izzati
Terbatas  Perpustakaan Prodi Arsitektur
» Gedung UPT Perpustakaan

Permasalahan kesehatan mental di kalangan generasi Z telah menjadi isu krusial dalam beberapa dekade terakhir. Generasi ini, yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, menghadapi tekanan sosial, akademik, dan emosional yang luar biasa, terutama di tengah perubahan cepat era digital. Menurut laporan Kementerian Kesehatan RI, Jawa Barat memiliki angka prevalensi gangguan mental tertinggi di Indonesia, khususnya di kalangan mahasiswa. Faktor seperti stigma sosial, ketakutan akan penilaian negatif, dan kurangnya akses fasilitas rehabilitasi yang inklusif menjadi penghalang utama bagi generasi Z untuk mendapatkan perawatan yang memadai. Sebagai alternatif, banyak dari mereka beralih ke seni sebagai metode self-healing. Seni terbukti efektif sebagai medium ekspresi non-verbal, yang memungkinkan individu untuk mengolah emosi tanpa tekanan komunikasi langsung. Meski demikian, fasilitas rehabilitasi yang mendukung metode seni ini masih sangat terbatas di Indonesia. Proyek ini bertujuan untuk mengisi kesenjangan tersebut dengan merancang pusat rehabilitasi mental berbasis art therapy yang dirancang khusus untuk generasi Z. Pendekatan arsitektural proyek ini didasarkan pada teori Biophilic Design, Environmental Psychology, dan Art as Therapy, yang mengintegrasikan elemen-elemen alami, psikologi lingkungan, dan seni untuk menciptakan ruang penyembuhan yang holistik. Biophilic Design menghadirkan hubungan erat antara manusia dan alam melalui pencahayaan alami, ruang hijau, dan penggunaan material organik. Teori Environmental Psychology diterapkan dalam tata ruang yang intuitif, pemilihan warna yang menenangkan, dan penciptaan lingkungan yang mendukung kesejahteraan emosional. Sementara itu, teori Art as Therapy memberikan dasar bagi penyediaan ruang seni yang fleksibel, galeri pameran, dan aktivitas seni kolaboratif sebagai metode utama untuk memfasilitasi pemulihan mental.Fasilitas ini dirancang dengan berbagai ruang, termasuk studio seni, ruang workshop, taman terapi, dan galeri pameran. Studio seni dirancang fleksibel untuk mendukung aktivitas seni rupa, seni pertunjukan, dan seni musik. Taman terapi dirancang sebagai ruang refleksi yang memanfaatkan elemen alam seperti air, vegetasi hijau, dan jalur meditasi. Galeri seni memungkinkan pengguna memamerkan hasil karya mereka, yang bertujuan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan memperkuat interaksi sosial. Lokasi proyek direncanakan di kawasan Cibiru Wetan, Bandung, dengan mempertimbangkan aksesibilitas strategis dan suasana semi-urban yang mendukung proses pemulihan. Lingkungan ini memberikan keseimbangan antara akses ke fasilitas kota dan kedekatan dengan elemen alam, seperti vegetasi dan lanskap hijau. Proyek ini tidak hanya menawarkan solusi terhadap tantangan kesehatan mental, tetapi juga menciptakan ruang komunitas yang inklusif dan memberdayakan generasi Z melalui seni. Selain itu, pendekatan ini diharapkan dapat mengurangi stigma sosial terhadap kesehatan mental dan memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni sebagai bagian dari proses pemulihan.Dengan pendekatan holistik yang memadukan seni, arsitektur, dan elemen alami, proyek ini menawarkan kebaruan dalam desain fasilitas rehabilitasi mental di Indonesia. Proyek ini diharapkan dapat menjadi model yang tidak hanya mendukung pemulihan individu tetapi juga memberikan dampak sosial yang lebih luas, seperti pemberdayaan komunitas, penguatan budaya lokal, dan peningkatan kesadaran tentang pentingnya kesehatan mental.