digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kota Bandung yang secara topografis berada di dasar Cekungan Bandung atau Bandung Basin menghadapi ancaman banjir hidrometeorologi yang terus meningkat akibat urbanisasi masif dan alih fungsi lahan. Kondisi ini memicu kerusakan struktural secara repetitif pada prasarana jalan perkotaan yang berujung pada eskalasi beban fiskal daerah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan valuasi kerugian ekonomi infrastruktur jalan terhadap ancaman banjir di Kota Bandung pada tahun 2025. Metodologi yang digunakan mengintegrasikan pemodelan spasial menggunakan perangkat lunak GIS untuk analisis keterpaparan, perhitungan koefisien limpasan berbasis tata guna lahan, serta valuasi ekonomi menggunakan kerangka Damage and Loss Assessment atau DaLA untuk mengonversi kerusakan fisik menjadi metrik finansial riil. Hasil analisis spasial menunjukkan tingkat keterpaparan yang masif, di mana 96,22% dari total kerugian ekonomi infrastruktur jalan, dengan nilai valuasi mencapai Rp1,8 Triliun, terkonsentrasi secara absolut pada zona bahaya tinggi. Temuan empiris pada koridor kritis membuktikan bahwa degradasi perkerasan jalan tidak hanya dipengaruhi oleh anomali topografis, tetapi juga diperparah oleh tingginya limpasan lateral dari tata guna lahan komersial kedap air yang memiliki nilai koefisien limpasan ekstrem yaitu 0,70 hingga 0,95. Tingginya angka valuasi kerugian ekonomi ini mengonfirmasi terjadinya kesenjangan fiskal atau fiscal gap yang membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah atau APBD Kota Bandung. Sebagai implikasi kebijakan, penelitian ini merekomendasikan intervensi tata ruang melalui penegakan regulasi Zero Delta Q pada tingkat persil, serta penyesuaian alokasi prioritas anggaran pemeliharaan yang difokuskan pada perbaikan sistem drainase dan peningkatan struktur jalan di zona paparan genangan tertinggi.