Kota Bandung yang secara topografis berada di dasar Cekungan Bandung atau
Bandung Basin menghadapi ancaman banjir hidrometeorologi yang terus
meningkat akibat urbanisasi masif dan alih fungsi lahan. Kondisi ini memicu
kerusakan struktural secara repetitif pada prasarana jalan perkotaan yang berujung
pada eskalasi beban fiskal daerah. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan valuasi
kerugian ekonomi infrastruktur jalan terhadap ancaman banjir di Kota Bandung
pada tahun 2025. Metodologi yang digunakan mengintegrasikan pemodelan spasial
menggunakan perangkat lunak GIS untuk analisis keterpaparan, perhitungan
koefisien limpasan berbasis tata guna lahan, serta valuasi ekonomi menggunakan
kerangka Damage and Loss Assessment atau DaLA untuk mengonversi kerusakan
fisik menjadi metrik finansial riil. Hasil analisis spasial menunjukkan tingkat
keterpaparan yang masif, di mana 96,22% dari total kerugian ekonomi infrastruktur
jalan, dengan nilai valuasi mencapai Rp1,8 Triliun, terkonsentrasi secara absolut
pada zona bahaya tinggi. Temuan empiris pada koridor kritis membuktikan bahwa
degradasi perkerasan jalan tidak hanya dipengaruhi oleh anomali topografis, tetapi
juga diperparah oleh tingginya limpasan lateral dari tata guna lahan komersial
kedap air yang memiliki nilai koefisien limpasan ekstrem yaitu 0,70 hingga 0,95.
Tingginya angka valuasi kerugian ekonomi ini mengonfirmasi terjadinya
kesenjangan fiskal atau fiscal gap yang membebani Anggaran Pendapatan dan
Belanja Daerah atau APBD Kota Bandung. Sebagai implikasi kebijakan, penelitian
ini merekomendasikan intervensi tata ruang melalui penegakan regulasi Zero Delta
Q pada tingkat persil, serta penyesuaian alokasi prioritas anggaran pemeliharaan
yang difokuskan pada perbaikan sistem drainase dan peningkatan struktur jalan di
zona paparan genangan tertinggi.
Perpustakaan Digital ITB