digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pertumbuhan volume peti kemas nasional meningkatkan beban operasional pelabuhan, termasuk TPK Semarang yang mencatatkan rekor throughput tertinggi di tahun 2025. Keberadaan depo peti kemas dilihat sebagai solusi, salah satunya Depo Peti Kemas PT X. Depo menghadapi permasalahan tidak terpenuhinya Service Level Agreement waktu putar truk sebesar 20 menit pada 2 perspektif yaitu, rata-rata waktu putar truk ekspor dan pada > 30% truk yang datang. Penelitian ini bertujuan mengkaji komponen waktu putar truk. Pertama, menentukan usulan kebijakan pelayanan lift-on & lift-off yang menghasilkan rata-rata waktu tunggu handling minimum. Kedua, merancang model konfigurasi penempatan dan penumpukan peti kemas yang meminimasi waktu operasional alat handling. Waktu tunggu handling dimodelkan menggunakan discrete event simulation sebagai permasalahan dispatching container handling equipment. Sembilan kebijakan urutan pelayanan dibandingkan, yaitu First-Come First-Serve sebagai kondisi saat ini, Nearest Job First, job oriented fixed size window (3, 4, 5 jobs), time oriented fixed length window (10, 15 minutes), serta FCFS dan NJF dengan prediksi kedatangan truk berbasis Advanced Traffic Information System. Waktu operasional alat handling diselesaikan melalui modifikasi model acuan Yard Container Scheduling Problem with Relocations berbasis integer linear programming yang disesuaikan dengan karakteristik side loader dan dibungkus dalam kerangka simulasi rolling horizon untuk mengakomodasi ketidakpastian permintaan. Model diselesaikan secara non-analitik menggunakan algoritma repeated-random-start (RRS) dan local search swap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan job oriented fixed size window dengan window 5 jobs menghasilkan rata-rata waktu tunggu handling paling minimum di antara kebijakan yang diuji, yaitu penurunan 27,4% dibandingkan kebijakan saat ini. Model YCSPR termodifikasi menurunkan waktu operasional alat handling rata-rata sebesar 20% per jam, waktu reshuffling sebesar 10%, dan waktu handling per peti kemas produktif sebesar 23% dibandingkan kondisi eksisting. Peninjauan terhadap waktu putar truk dilakukan berdasarkan dua perspektif. Jika fokus PT X adalah untuk menurunkan rata-rata waktu putar, job oriented fixed size window dengan window 5 jobs direkomendasikan. Jika fokus PT X adalah untuk menurunkan jumlah truk yang melanggar SLA, FCFS dengan prediksi kedatangan truk direkomendasikan. Dengan demikian, usulan kebijakan pelayanan LoLo dan model operasional penumpukan peti kemas yang dikembangkan pada penelitian ini mampu meminimasi komponen waktu putar truk Depo Peti Kemas PT X.