Penurunan efisiensi panel PV akibat kenaikan temperatur operasional menjadi tantangan penting dalam pemanfaatan energi surya, dengan penurunan efisiensi berkisar 0,25–0,5%/°C. Berbagai metode pendinginan pasif telah dikembangkan untuk mengatasi hal ini, salah satunya Pulsating Heat Pipe (PHP) yang tidak membutuhkan suplai energi tambahan untuk beroperasi. Pengaruh panjang adiabatik pada rangkaian pipa terhadap performa perangkat ini masih memerlukan kajian lebih lanjut, khususnya untuk material aluminium yang lebih murah dan ringan dibandingkan tembaga. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh panjang adiabatik terhadap hambatan termal dan performa start-up sistem, serta membandingkan kinerja dan biaya produksinya dengan perangkat sejenis berbahan tembaga.
Pengujian dilakukan secara eksperimental pada skala laboratorium menggunakan rangkaian pipa tertutup satu putaran dengan tiga konfigurasi panjang adiabatik tanpa adiabatik, rasio 1:4, dan rasio 1:2, fluida metanol dengan rasio pengisian 45%, tiga variasi tekanan awal 30 kPa, 50 kPa, dan 100 kPa, dan tiga variasi daya masukan 30 W, 45 W, dan 60 W. Data temperatur dan tekanan direkam menggunakan sistem akuisisi data untuk menghitung hambatan termal dan waktu start-up pada tiap kondisi pengujian.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa konfigurasi rasio 1:4 secara konsisten memberikan hambatan termal terendah dan waktu start-up tercepat, membentuk tren "V" terhadap variasi panjang adiabatik. Kenaikan daya masukan dan penurunan tekanan awal terbukti mempercepat penyalaan serta menurunkan hambatan termal. Meski performa termalnya sedikit lebih rendah dibandingkan tembaga, perangkat berbahan aluminium jauh lebih ekonomis, sehingga konfigurasi rasio 1:4 dinilai paling optimum untuk dikembangkan sebagai alternatif pendingin pasif panel surya.
Perpustakaan Digital ITB