digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB I Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB VI Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB VII Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Daftar Pustaka Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Lampiran Asmudjo Jono Irianto [37020014]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Penelitian penciptaan ini berangkat dari persoalan pluralitas paradigma dalam seni rupa kontemporer yang tidak lagi dapat dipahami melalui satu pendekatan estetik maupun metodologis yang tunggal. Dalam konteks tersebut, penelitian ini memusatkan perhatian pada tubuh manusia sebagai metafor paradoksal dalam era Antroposen: manusia sebagai pelaku sekaligus korban krisis ekologis global. Antroposen dipahami bukan sekadar sebagai isu lingkungan, melainkan sebagai kondisi yang mengubah relasi manusia dengan dunia, serta memengaruhi cara manusia merasakan, mempersepsi, dan membayangkan masa depan ekologisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan practice-based research melalui metode otonomi–heteronomi, yaitu pendekatan yang mempertahankan ketegangan antara kebebasan eksplorasi estetik dengan keterhubungan karya terhadap konteks sosial ekologis. Metode tersebut dioperasikan melalui dua pendekatan yang saling berkaitan, yaitu research-led practice dan practice-led research. Tahap pertama dilakukan melalui kajian terhadap seni rupa kontemporer, Antroposen, teori afek, pengalaman estetik, serta representasi tubuh. Tahap kedua diwujudkan melalui praktik penciptaan karya yang mengeksplorasi tubuh, materialitas, ruang, cahaya, dan atmosfer visual melalui medium patung, instalasi, expanded painting, dan light box. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendekatan otonomi–heteronomi memungkinkan karya menghadirkan pengalaman estetik yang bekerja melalui afek, persepsi, dan sensibilitas tubuh, alih-alih melalui penyampaian pesan ekologis yang bersifat langsung atau didaktik. Tubuh-tubuh yang rusak, ambigu, dan paradoksal dihadirkan melalui strategi puitik distopis yang membangun ketegangan antara daya tarik visual dan rasa genting, melahirkan pengalaman horror sublime dan uncanny yang bersifat reflektif namun tidak sepenuhnya stabil. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pengalaman seni rupa kontemporer tidak dapat dijamin menghasilkan kesadaran ekologis publik secara linear maupun terukur, karena pengalaman pemirsa selalu dipengaruhi oleh kondisi persepsi, habitus visual, dan konteks sosial yang melingkupinya. Kontribusi penelitian ini terletak pada pengembangan metode otonomi–heteronomi sebagai kerangka praktik penciptaan seni rupa kontemporer berbasis Antroposen, sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai ruang pengalaman estetik yang mempertahankan kompleksitas, ambiguitas, dan kerentanan krisis ekologis tanpa harus direduksi menjadi instrumen komunikasi moral maupun solusi sosial yang bersifat langsung.