digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB II Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB II Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB III Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB IV Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB V Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Daftar Pustaka Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Lampiran Maya Purnama Sari [37023001]
Terbatas  Noor Pujiati.,S.Sos
» Gedung UPT Perpustakaan

Wayang sebagai seni pertunjukan Indonesia mengalami perubahan representasi visual seiring dengan perkembangan masyarakat dan teknologi. Pada era pratradisi, masyarakat menggunakan teknologi manual untuk merepresentasikan wayang dalam bentuk wayang batu. Pada era tradisi, masyarakat memanfaatkan teknologi analog untuk memperluas representasi wayang melalui pertunjukan layar kelir dan televisi. Pada era post-tradisi, masyarakat memanfaatkan teknologi digital melalui berbagai platform digital, seperti TikTok, Instagram, Webtoon, dan YouTube. YouTube dipilih sebagai fokus penelitian karena memperlihatkan keragaman representasi visual tokoh wayang yang diproduksi oleh berbagai kreator. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia post-tradisi tetap menjadikan wayang sebagai rujukan budaya, tetapi merepresentasikannya melalui beragam representasi visual di YouTube. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana transformasi visual tokoh wayang direpresentasikan di YouTube dan bagaimana transformasi visual tersebut membangun identitas masyarakat Indonesia posttradisi. Penelitian menggunakan etnografi hibrid untuk pengumpulan data secara daring dan luring melalui observasi, wawancara, dan seleksi data, sedangkan analisis data menggunakan etnografi baru melalui analisis domain, taksonomi, komponen, perbandingan, dan tema budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga kanal YouTube yang dianalisis, yaitu Cak Rye Animasi karya Riyanto, Aniwayang Desa Timun karya Daud Nugraha, dan Wayang Lostang karya Samuel Indratma, memiliki karakteristik visual, proses produksi, dan cara memaknai wayang yang berbeda. Cak Rye Animasi memaknai wayang sebagai media pengenalan wayang bagi generasi muda melalui tokoh Punakawan yang mempertahankan struktur dasar wayang tradisi dengan produksi individual. Aniwayang Desa Timun memaknai wayang sebagai boneka pertunjukan bayangan melalui tokoh antropomorfik yang mempertahankan sebagian atribut tradisi berupa gapit dan tuding dengan produksi tim yang terstruktur. Wayang Lostang memaknai wayang sebagai sumber gagasan berkarya melalui tokoh figuratif manusia bergaya visual siluet yang diproduksi secara kolaboratif antarseniman. Analisis visual menunjukkan bahwa ketiga kanal memiliki tingkat keserupaan visual yang berbeda terhadap wayang tradisi, yaitu “serupa”, “sebagian serupa”, dan “tidak serupa”. Perbedaan tingkat keserupaan menunjukkan bahwa setiap kreator memaknai wayang dengan cara yang berbeda sehingga membangun identitas yang berbeda dalam masyarakat Indonesia post-tradisi. Riyanto membangun identitas legitimasi melalui preservasi wayang, Daud Nugraha membangun identitas proyek melalui rekonstruksi fungsi sosial wayang, sedangkan Samuel Indratma membangun identitas resistensi melalui dekonstruksi definisi wayang tradisi. Sintesis hasil analisis menunjukkan bahwa perbedaan representasi visual dan identitas kreator menghasilkan keragaman transformasi visual tokoh wayang di YouTube. Berdasarkan karakteristik perubahan visual terhadap wayang tradisi, keragaman tersebut dikelompokkan ke dalam tiga jenis transformasi visual, yaitu transformasi visual morfologi, transformasi visual substitusi, dan transformasi visual topologi. Penelitian menyimpulkan bahwa transformasi visual tokoh wayang di YouTube tidak menghasilkan satu representasi visual yang baku, tetapi memperlihatkan keragaman representasi visual yang dipengaruhi oleh cara kreator masyarakat Indonesia post-tradisi memaknai wayang. Keragaman representasi visual tersebut menunjukkan bahwa kreator membangun identitas legitimasi, identitas proyek, dan identitas resistensi melalui representasi visual tokoh wayang di YouTube sebagai wujud hubungan masyarakat Indonesia post-tradisi dengan wayang sebagai rujukan budaya. Temuan konseptual penelitian ini berupa konsep ”Pluralitas Transformasi Visual”, yaitu keragaman transformasi visual tokoh wayang di YouTube yang muncul sebagai konsekuensi dari beragam cara kreator masyarakat Indonesia posttradisi memaknai, merepresentasikan, dan mentransformasikan wayang. Konsep tersebut menjelaskan bahwa transformasi visual tokoh wayang tidak menghasilkan satu representasi visual yang baku, melainkan pluralitas representasi visual yang tetap berlandaskan pada wayang tradisi sebagai rujukan budaya. Berdasarkan konsep tersebut, penelitian ini merumuskan tiga model transformasi visual, yaitu morfologi, substitusi, dan topologi.