digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 1 Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 2 Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 3 Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 4 Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 5 Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

BAB 6 Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

PUSTAKA Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

LAMPIRAN Rahmania Afradiella Alifah
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB

Ekspansi pengembangan kota baru di kawasan pinggiran metropolitan Jabodetabek menghasilkan fenomena kampung kota terjepit, permukiman organik yang terkepung perumahan formal. RT 010 dan RT 012 Kampung Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan, termasuk kategori kampung terjepit berat dalam radius pengembangan BSD City. Penelitian ini menganalisis transformasi ruang secara temporal, karakter morfologi, serta faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi keberlanjutan kampung. Penelitian menggunakan pendekatan campuran deskriptif-eksplanatif dengan klasifikasi citra Landsat berbasis SVM pada tujuh titik waktu (1995–2025), analisis Urban Index (UI), Building Coverage Ratio (BCR), Street Pattern Analysis, kajian literatur dan wawancara, serta Sustainable Livelihood Approach (SLA) melalui kuesioner kepada 30 responden. Kawasan Terbangun Terencana berkembang dari 0 ha menjadi 125,08 ha sementara RTH/Pertanian menyusut dari 143,76 ha menjadi 97,91 ha dalam empat periodisasi: Pra-Ekspansi, Awal Ekspansi (1995–2005), Akselerasi dan Pengepungan (2005–2015), dan Konsolidasi Terjepit (2015–2025). UI tidak membedakan kampung dan kawasan formal pada skala makro, namun BCR kampung (45,14%) lebih tinggi dari kawasan formal (38,01%), mencerminkan densifikasi internal. RT 010 dan RT 012 menunjukkan pola cul-desac bukan sebagai produk desain, melainkan akibat penutupan akses historis oleh perumahan formal yang mengepungnya. Tidak ada instrumen RDTR yang melindungi permukiman organik eksisting. Analisis SLA menunjukkan Modal Sosial (+0,35) dan Modal Fisik (+1,13) meningkat, sementara Modal Alam (?1,00) dan Modal Manusia (?0,44) menurun. Seluruh responden berencana tetap tinggal, mengkonfirmasi ikatan sosial dan kesadaran historis sebagai faktor dominan kebertahanan kampung. Kebaruan penelitian terletak pada pendekatan tiga lapis integratif yaitu time-series tutupan lahan, morfologi multiskala, dan SLA. Kebertahanan Kampung Cilenggang bersifat kondisional dan bertumpu pada modal sosial, bukan perlindungan regulatif, mengimplikasikan perlunya instrumen perlindungan permukiman organik dalam regulasi tata ruang.