Penelitian ini mengembangkan kerangka terpadu Front End Engineering Design
(FEED) dan analisis tekno-ekonomi untuk mengevaluasi kelayakan Fluid
Collection and Reinjection System (FCRS) pada lapangan panas bumi dengan
kapasitas target 50–55 MW. Kajian teknis dilakukan melalui pemodelan neraca
massa dan energi menggunakan Aspen HYSYS versi 14, dengan kondisi operasi
meliputi laju uap 430–460 ton/jam, tekanan keluaran 5,3–5,5 bar(a), dan temperatur
140–150 °C guna menjaga kualitas uap turbin, mengendalikan risiko silica scaling,
serta memastikan keandalan operasi jangka panjang. Hasil simulasi digunakan
sebagai dasar sizing dan spesifikasi peralatan utama FCRS, termasuk separator,
silencer, cooling pond, steam trap, pompa, serta konfigurasi dan material sistem
perpipaan.
Estimasi Capital Expenditure (CAPEX) dilakukan menggunakan pendekatan
bottom-up. Pada skenario FCRS saja, hasil FEED menunjukkan CAPEX sebesar
USD 13,86 juta dengan kinerja subsistem yang optimal. Namun, ketika FCRS
diposisikan sebagai bagian dari proyek panas bumi greenfield, di mana FCRS
merepresentasikan sekitar 10–15% dari total CAPEX, maka total investasi proyek
terimplikasi berada pada kisaran USD 92–138 juta. Mengacu pada tolok ukur sektor
panas bumi Indonesia sebesar USD 3.800–4.200 per kW, total CAPEX yang lebih
realistis berada pada kisaran USD 209–231 juta. Pada tingkat investasi tersebut,
hasil analisis ekonomi menunjukkan penurunan signifikan indikator keekonomian,
dengan IRR turun dari 13,6% (skenario FCRS saja) menjadi sekitar 8% pada
CAPEX USD 150 juta, serta 6–7% pada CAPEX USD 200–220 juta, disertai NPV
negatif hingga USD 25–40 juta dan payback period yang memanjang hingga 15–
18 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tarif panas bumi eksisting sebesar 8,07
sen USD/kWh belum memadai untuk mendukung pembiayaan proyek apabila
seluruh biaya pengeboran dan pembangkit listrik diperhitungkan
Perpustakaan Digital ITB