digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini mengembangkan kerangka terpadu Front End Engineering Design (FEED) dan analisis tekno-ekonomi untuk mengevaluasi kelayakan Fluid Collection and Reinjection System (FCRS) pada lapangan panas bumi dengan kapasitas target 50–55 MW. Kajian teknis dilakukan melalui pemodelan neraca massa dan energi menggunakan Aspen HYSYS versi 14, dengan kondisi operasi meliputi laju uap 430–460 ton/jam, tekanan keluaran 5,3–5,5 bar(a), dan temperatur 140–150 °C guna menjaga kualitas uap turbin, mengendalikan risiko silica scaling, serta memastikan keandalan operasi jangka panjang. Hasil simulasi digunakan sebagai dasar sizing dan spesifikasi peralatan utama FCRS, termasuk separator, silencer, cooling pond, steam trap, pompa, serta konfigurasi dan material sistem perpipaan. Estimasi Capital Expenditure (CAPEX) dilakukan menggunakan pendekatan bottom-up. Pada skenario FCRS saja, hasil FEED menunjukkan CAPEX sebesar USD 13,86 juta dengan kinerja subsistem yang optimal. Namun, ketika FCRS diposisikan sebagai bagian dari proyek panas bumi greenfield, di mana FCRS merepresentasikan sekitar 10–15% dari total CAPEX, maka total investasi proyek terimplikasi berada pada kisaran USD 92–138 juta. Mengacu pada tolok ukur sektor panas bumi Indonesia sebesar USD 3.800–4.200 per kW, total CAPEX yang lebih realistis berada pada kisaran USD 209–231 juta. Pada tingkat investasi tersebut, hasil analisis ekonomi menunjukkan penurunan signifikan indikator keekonomian, dengan IRR turun dari 13,6% (skenario FCRS saja) menjadi sekitar 8% pada CAPEX USD 150 juta, serta 6–7% pada CAPEX USD 200–220 juta, disertai NPV negatif hingga USD 25–40 juta dan payback period yang memanjang hingga 15– 18 tahun. Kondisi ini menunjukkan bahwa tarif panas bumi eksisting sebesar 8,07 sen USD/kWh belum memadai untuk mendukung pembiayaan proyek apabila seluruh biaya pengeboran dan pembangkit listrik diperhitungkan