digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Bungkil inti sawit (BIS) merupakan salah satu limbah padat dari industri sawit yang memiliki kandungan lignoselulosa tinggi dan berpotensi dimanfaatkan melalui proses biokonversi. Salah satu organisme makro yang memiliki kemampuan biodegradasi tinggi terhadap limbah organik adalah larva lalat tentara hitam (LLTH), Hermetia illucens. Namun demikian, kandungan lignoselulosa yang kompleks pada BIS menjadi hambatan bagi proses biokonversi karena struktur lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang sulit diuraikan menyebabkan penurunan ketersediaan nutrien bagi larva. Kondisi ini berdampak langsung pada pertumbuhan larva, efisiensi konversi substrat, dan performa pemeliharaan secara keseluruhan. Tantangan lain yakni saat BIS digunakan dalam metode total feeding system (TFS), yaitu sistem pemberian pakan satu kali di awal, karena kualitas substrat perlu stabil selama masa pemeliharaan. Untuk mengatasi kendala ini, dilakukan pretreatment biologis pada BIS menggunakan tiga jenis cendawan, yaitu Rhizopus oligosporus, Phanerochaete chrysosporium, dan Aspergillus niger, guna meningkatkan kecernaan substrat dan mendukung performa LLTH dalam sistem TFS. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pretreatment substrat berbasis lignoselulosa, dengan bungkil inti sawit (BIS) sebagai material uji, menggunakan cendawan sebagai pakan larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens) dalam sistem Total Feeding System (TFS), yang mencakup parameter pertumbuhan, perkembangan, efisiensi konversi larva, efisiensi reduksi substrat, dan kualitas nutrisi biomassa yang dihasilkan. Proses fermentasi dilakukan selama sepuluh hari, kemudian substrat diberikan kepada LLTH berumur enam hari. Lima perlakuan digunakan dalam penelitian, yaitu BIS tanpa fermentasi (NF), BIS fermentasi Rhizopus oligosporus (RO), BIS fermentasi Phanerochaete chrysosporium (PC), BIS fermentasi Aspergillus niger (AN), serta pakan ayam komersial sebagai kontrol positif (K). Parameter yang diamati meliputi perubahan berat dan panjang larva, laju pertumbuhan, GR (growth rate), tingkat kelulushidupan,SR (survival rate), efisiensi konversi pakan (FCR_proxy), efisiensi konversi pakan tercerna (ECD_proxy), indeks reduksi limbah (WRI), serta hasil analisis proksimat pada substrat dan larva. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mampu mempertahankan tingkat kelulushidupan LLTH pada kisaran 85,3–91,4%, dengan nilai tertinggi pada perlakuan kontrol positif dan fermentasi A. niger. Pola pertumbuhan larva menunjukkan kurva sigmoidal yang lazim ditemukan pada metode TFS. Perlakuan AN menghasilkan berat akhir dan laju pertumbuhan tertinggi di antara seluruh perlakuan BIS, yakni sebesar 6,42 ± 0,28 mg/larva/hari, mendekati K, sedangkan perlakuan NF menunjukkan laju pertumbuhan terendah 4.81 ± 0.21 mg/larva/hari. Hasil ini didukung oleh analisis proksimat substrat BIS, di mana fermentasi A. niger meningkatkan kadar karbohidrat dan menurunkan lemak juga serat kasar yang didukung oleh aktivitas enzim selulolitik seperti CMCase dan FPase. Perubahan komposisi nutrisi ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan kecernaan substrat dan ketersediaan energi bagi larva. Hasil analisis proksimat larva menunjukkan bahwa pretreatment BIS menggunakan cendawan meningkatkan kandungan protein dan asam amino larva dibandingkan dengan kelompok non-fermentasi. Larva AN menunjukkan peningkatan kadar protein (33,82%) dan presentase asam amino lebih tinggi dibandingkan larva NF. Kandungan lemak juga meningkat setelah fermentasi, mengindikasikan peningkatan asimilasi nutrisi. Nilai ECD_proxy meningkat dari 20 ± SE% pada NF menjadi 23 ± SE% pada kelompok AN, dan nilai FCR_proxy lebih rendah pada kelompok AN (4,4 ± SE) dibandingkan kelompok NF (5,2 ± SE). Meskipun nilai WRI pada semua perlakuan BIS relatif rendah (2,3-2,8 %), perlakuan fermentasi secara konsisten menghasilkan degradasi limbah yang lebih tinggi dibandingkan BIS non-fermentasi. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pretreatment BIS menggunakan A. niger memberikan peningkatan signifikan pada performa pertumbuhan LLTH dalam sistem TFS dibandingkan perlakuan cendawan lain. Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan strategi biokonversi limbah lignoselulosa dalam skala industri, serta mendukung pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber daya alternatif yang lebih bernilai di Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pretreatment biologis melalui fermentasi cendawan merupakan strategi yang potensial dalam meningkatkan efisiensi biokonversi, stabilitas nutrisi substrat, dan performa larva pada sistem pemberian pakan total.