Bungkil inti sawit (BIS) merupakan salah satu limbah padat dari industri sawit yang
memiliki kandungan lignoselulosa tinggi dan berpotensi dimanfaatkan melalui
proses biokonversi. Salah satu organisme makro yang memiliki kemampuan
biodegradasi tinggi terhadap limbah organik adalah larva lalat tentara hitam
(LLTH), Hermetia illucens. Namun demikian, kandungan lignoselulosa yang
kompleks pada BIS menjadi hambatan bagi proses biokonversi karena struktur
lignin, selulosa, dan hemiselulosa yang sulit diuraikan menyebabkan penurunan
ketersediaan nutrien bagi larva. Kondisi ini berdampak langsung pada pertumbuhan
larva, efisiensi konversi substrat, dan performa pemeliharaan secara keseluruhan.
Tantangan lain yakni saat BIS digunakan dalam metode total feeding system (TFS),
yaitu sistem pemberian pakan satu kali di awal, karena kualitas substrat perlu stabil
selama masa pemeliharaan. Untuk mengatasi kendala ini, dilakukan pretreatment
biologis pada BIS menggunakan tiga jenis cendawan, yaitu Rhizopus oligosporus,
Phanerochaete chrysosporium, dan Aspergillus niger, guna meningkatkan
kecernaan substrat dan mendukung performa LLTH dalam sistem TFS. Sehingga,
penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh pretreatment substrat
berbasis lignoselulosa, dengan bungkil inti sawit (BIS) sebagai material uji,
menggunakan cendawan sebagai pakan larva lalat tentara hitam (Hermetia illucens)
dalam sistem Total Feeding System (TFS), yang mencakup parameter
pertumbuhan, perkembangan, efisiensi konversi larva, efisiensi reduksi substrat,
dan kualitas nutrisi biomassa yang dihasilkan.
Proses fermentasi dilakukan selama sepuluh hari, kemudian substrat diberikan
kepada LLTH berumur enam hari. Lima perlakuan digunakan dalam penelitian,
yaitu BIS tanpa fermentasi (NF), BIS fermentasi Rhizopus oligosporus (RO), BIS
fermentasi Phanerochaete chrysosporium (PC), BIS fermentasi Aspergillus niger
(AN), serta pakan ayam komersial sebagai kontrol positif (K). Parameter yang
diamati meliputi perubahan berat dan panjang larva, laju pertumbuhan, GR (growth
rate), tingkat kelulushidupan,SR (survival rate), efisiensi konversi pakan
(FCR_proxy), efisiensi konversi pakan tercerna (ECD_proxy), indeks reduksi
limbah (WRI), serta hasil analisis proksimat pada substrat dan larva.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh perlakuan mampu mempertahankan
tingkat kelulushidupan LLTH pada kisaran 85,3–91,4%, dengan nilai tertinggi pada
perlakuan kontrol positif dan fermentasi A. niger. Pola pertumbuhan larva
menunjukkan kurva sigmoidal yang lazim ditemukan pada metode TFS. Perlakuan
AN menghasilkan berat akhir dan laju pertumbuhan tertinggi di antara seluruh
perlakuan BIS, yakni sebesar 6,42 ± 0,28 mg/larva/hari, mendekati K, sedangkan
perlakuan NF menunjukkan laju pertumbuhan terendah 4.81 ± 0.21 mg/larva/hari.
Hasil ini didukung oleh analisis proksimat substrat BIS, di mana fermentasi A. niger
meningkatkan kadar karbohidrat dan menurunkan lemak juga serat kasar yang
didukung oleh aktivitas enzim selulolitik seperti CMCase dan FPase. Perubahan
komposisi nutrisi ini memberikan kontribusi terhadap peningkatan kecernaan
substrat dan ketersediaan energi bagi larva.
Hasil analisis proksimat larva menunjukkan bahwa pretreatment BIS menggunakan
cendawan meningkatkan kandungan protein dan asam amino larva dibandingkan
dengan kelompok non-fermentasi. Larva AN menunjukkan peningkatan kadar
protein (33,82%) dan presentase asam amino lebih tinggi dibandingkan larva NF.
Kandungan lemak juga meningkat setelah fermentasi, mengindikasikan
peningkatan asimilasi nutrisi. Nilai ECD_proxy meningkat dari 20 ± SE% pada NF
menjadi 23 ± SE% pada kelompok AN, dan nilai FCR_proxy lebih rendah pada
kelompok AN (4,4 ± SE) dibandingkan kelompok NF (5,2 ± SE). Meskipun nilai
WRI pada semua perlakuan BIS relatif rendah (2,3-2,8 %), perlakuan fermentasi
secara konsisten menghasilkan degradasi limbah yang lebih tinggi dibandingkan
BIS non-fermentasi.
Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pretreatment BIS
menggunakan A. niger memberikan peningkatan signifikan pada performa
pertumbuhan LLTH dalam sistem TFS dibandingkan perlakuan cendawan lain.
Temuan ini memberikan kontribusi penting bagi pengembangan strategi
biokonversi limbah lignoselulosa dalam skala industri, serta mendukung
pemanfaatan limbah kelapa sawit sebagai sumber daya alternatif yang lebih bernilai
di Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa pretreatment biologis melalui
fermentasi cendawan merupakan strategi yang potensial dalam meningkatkan
efisiensi biokonversi, stabilitas nutrisi substrat, dan performa larva pada sistem
pemberian pakan total.
Perpustakaan Digital ITB