Kampoeng Heritage Kajoetangan merupakan destinasi wisata budaya berbasis
heritage di Kota Malang yang memiliki tata ruang permukiman padat, jaringan dan
gang bercabang. Karakteristik fisik tersebut menimbulkan tantangan navigasi yang
signifikan bagi pengunjung, di mana disorientasi spasial kerap terjadi akibat
keterbatasan sistem wayfinding eksisting. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kondisi sistem wayfinding eksisting di Kampoeng Heritage
Kajoetangan serta mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung orientasi dan
navigasi pengunjung. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan
desain exploratory sequential. Pada tahap kualitatif, pengumpulan data dilakukan
melalui observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur terhadap warga lokal
dan pengunjung, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan grounded
theory melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Pada tahap
kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 114 responden dan
dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh variabel
aksesibilitas, tata letak kawasan, keberadaan penanda, media navigasi, dan aspek
grafis visual terhadap pengalaman navigasi pengunjung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem wayfinding eksisting telah
menjalankan fungsi navigasi dasar, namun belum efektif secara menyeluruh.
Elemen penanda arah (signage) memiliki keterbatasan dalam hal keterbacaan,
konsistensi visual, distribusi yang belum merata, dan minimnya informasi jarak
serta penanda posisi. Konflik sirkulasi antara wisatawan dan aktivitas harian warga
turut memperburuk pengalaman navigasi. Temuan kuantitatif mengonfirmasi
bahwa variabel tata letak kawasan, media navigasi, dan aspek grafis secara
signifikan memengaruhi tingkat navigasi pengunjung Penelitian ini menghasilkan
proposisi teoritik bahwa disfungsi wayfinding kawasan heritage bersifat sistemik
dan sosio-spasial, bukan semata teknis. Intervensi desain yang efektif harus
mengintegrasikan elemen formal dan informal, mempertimbangkan beban sosial
yang ditanggung warga lokal, serta memprioritaskan pengalaman kunjungan
pertama sebagai tolok ukur utama keberhasilan sistem navigasi.
Perpustakaan Digital ITB