digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Laysa Reinara [27124021]
PUBLIC Open In Flipbook Noor Pujiati.,S.Sos

Kampoeng Heritage Kajoetangan merupakan destinasi wisata budaya berbasis heritage di Kota Malang yang memiliki tata ruang permukiman padat, jaringan dan gang bercabang. Karakteristik fisik tersebut menimbulkan tantangan navigasi yang signifikan bagi pengunjung, di mana disorientasi spasial kerap terjadi akibat keterbatasan sistem wayfinding eksisting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kondisi sistem wayfinding eksisting di Kampoeng Heritage Kajoetangan serta mengevaluasi efektivitasnya dalam mendukung orientasi dan navigasi pengunjung. Penelitian menggunakan pendekatan mixed method dengan desain exploratory sequential. Pada tahap kualitatif, pengumpulan data dilakukan melalui observasi lapangan dan wawancara semi-terstruktur terhadap warga lokal dan pengunjung, yang kemudian dianalisis menggunakan pendekatan grounded theory melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding. Pada tahap kuantitatif, data dikumpulkan melalui kuesioner terhadap 114 responden dan dianalisis menggunakan regresi linear berganda untuk mengukur pengaruh variabel aksesibilitas, tata letak kawasan, keberadaan penanda, media navigasi, dan aspek grafis visual terhadap pengalaman navigasi pengunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem wayfinding eksisting telah menjalankan fungsi navigasi dasar, namun belum efektif secara menyeluruh. Elemen penanda arah (signage) memiliki keterbatasan dalam hal keterbacaan, konsistensi visual, distribusi yang belum merata, dan minimnya informasi jarak serta penanda posisi. Konflik sirkulasi antara wisatawan dan aktivitas harian warga turut memperburuk pengalaman navigasi. Temuan kuantitatif mengonfirmasi bahwa variabel tata letak kawasan, media navigasi, dan aspek grafis secara signifikan memengaruhi tingkat navigasi pengunjung Penelitian ini menghasilkan proposisi teoritik bahwa disfungsi wayfinding kawasan heritage bersifat sistemik dan sosio-spasial, bukan semata teknis. Intervensi desain yang efektif harus mengintegrasikan elemen formal dan informal, mempertimbangkan beban sosial yang ditanggung warga lokal, serta memprioritaskan pengalaman kunjungan pertama sebagai tolok ukur utama keberhasilan sistem navigasi.