Kompatibilitas material struktur terhadap Pb cair merupakan faktor penting yang menentukan
umur operasi sistem nuklir temperatur tinggi, khususnya pada Lead-cooled Fast Reactor (LFR).
Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi perilaku dan mekanisme korosi baja tahan karat
SS316 berbentuk spesimen U-bending yang diuji melalui metode statis dalam Pb cair selama 150
jam pada temperatur 550 °C dan 700 °C. Penggunaan spesimen U-bending dilakukan untuk
merepresentasikan kondisi tegangan lokal yang realistis pada struktur U-tube heat exchanger di
sistem sirkulasi pendingin LFR. Analisis dilakukan untuk memahami pengaruh temperatur tinggi,
deformasi bending, dan interaksi material dengan Pb cair terhadap karakteristik korosi yang
terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanisme degradasi utama pada temperatur 550
°C didominasi oleh proses oksidasi yang menghasilkan lapisan oksida duplex khas berupa lapisan
luar kaya Fe-O dan lapisan dalam berupa spinel Fe-Cr. Pada temperatur ini, kelarutan oksigen
dalam Pb cair relatif rendah sehingga pembentukan lapisan pelindung oksida Cr yang kontinu
belum dapat terjadi secara sempurna. Batas saturasi oksigen dalam Pb cair pada temperatur 550
°C berada pada nilai 1,27×10-3wt%, sehingga proses oksidasi yang terbentuk masih terbatas dan
belum menghasilkan perlindungan optimum terhadap material. Sebaliknya, pada temperatur 700
°C terjadi perubahan mekanisme korosi dari oksidasi menuju korosi pelarutan akibat
meningkatnya kelarutan unsur Ni, Cr, dan Fe ke dalam Pb cair. Kondisi ini menyebabkan penipisan
material pada permukaan spesimen SS316. Pada temperatur 700 °C, batas saturasi oksigen
meningkat hingga 1,11x 10-2 wt%, sehingga pembentukan sistem oksida Fe-Cr-O menjadi lebih
dominan dibandingkan temperatur 550 °C. Selain pengaruh temperatur, penelitian ini juga
mengevaluasi pengaruh variasi height reduction sebesar 0,9 cm dan 1,0 cm terhadap perilaku
korosi lokal. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa perbedaan deformasi lokal tersebut tidak
memberikan peningkatan signifikan terhadap tingkat serangan korosi pada spesimen. Hal ini
mengindikasikan bahwa variasi regangan akibat perbedaan deformasi bending masih belum cukup
besar untuk memengaruhi jalur difusi Pb secara signifikan di dalam material. Dengan demikian,
temperatur memiliki pengaruh yang lebih dominan dibandingkan variasi deformasi terhadap
mekanisme degradasi SS316 di lingkungan Pb cair bertemperatur tinggi. Pengujian bending
eksperimental menunjukkan bahwa spesimen SS316 memiliki kemampuan deformasi plastis yang
baik sebelum mengalami penurunan kekuatan akibat konsentrasi tegangan pada daerah radius
bending. Simulasi tiga titik bending menggunakan ABAQUS juga berhasil merepresentasikan
fenomena deformasi bending dan distribusi tegangan pada spesimen. Namun demikian, hasil
simulasi menunjukkan nilai tegangan maksimum yang lebih tinggi dibandingkan eksperimen uji
bending akibat pengaruh model material Johnson–Cook dan kondisi simulasi yang lebih ideal dibandingkan kondisi aktual pengujian. Meskipun terdapat perbedaan kuantitatif, simulasi
ABAQUS tetap mampu menggambarkan perilaku bending dan konsentrasi tegangan pada
spesimen secara umum. Secara keseluruhan, penelitian ini menunjukkan bahwa temperatur
memiliki peranan utama dalam menentukan mekanisme korosi SS316 di Pb cair, dimana
temperatur 550°C cenderung menghasilkan oksidasi, sedangkan temperatur 700 °C mendorong
terjadinya korosi pelarutan yang lebih agresif. Selain itu, deformasi bending tidak memberikan
pengaruh signifikan terhadap peningkatan korosi pada kondisi pengujian yang dilakukan.
Kombinasi pendekatan eksperimen dan simulasi ABAQUS memberikan pemahaman yang lebih
komprehensif mengenai perilaku mekanik dan degradasi material SS316 pada lingkungan liquid
Pb temperatur tinggi, sehingga hasil penelitian ini dapat menjadi referensi penting dalam
pengembangan material struktural untuk aplikasi sistem pendingin reaktor generasi lanjut seperti
LFR.
Perpustakaan Digital ITB