BAB 1 Angel
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 2 Angel
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 3 Angel
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 5 Angel
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
PUSTAKA Angel
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
BAB 4 Angel
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan
Stainless steel 316L banyak digunakan pada aplikasi industri dan biomedis karena
memiliki ketahanan korosi yang baik terutama didukung oleh kemampuannya
membentuk lapisan pasif yang protektif. Namun, keberadaan ion klorida (Cl-) dan
kenaikan temperatur dapat menurunkan stabilitas lapisan pasif dan memicu korosi
setempat. Pada pabrik minuman isotonik, digunakan pipa stainless steel 316L
dengan lasan untuk mendistribusikan produk pada temperatur ruang hingga 99°C.
Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi temperatur dan perbedaan
komposisi kimia antara formula minuman isotonik terhadap ketahanan korosi
stainless steel 316L.
Ruang lingkup penelitian difokuskan pada evaluasi perilaku korosi melalui
pendekatan uji elektrokimia dan uji perendaman, serta identifikasi perubahan
morfologi permukaan sebelum dan sesudah pengujian menggunakan Optical
Microscope (OM) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive
Spectroscopy (SEM-EDS). Uji elektrokimia meliputi pengukuran Open Circuit
Potential (OCP) dan pengujian Potentiodynamic Polarization untuk
mengidentifikasi perilaku pasivasi, kecenderungan pitting, serta karakteristik
daerah histeresis. Uji perendaman dilakukan dengan variasi temperatur (temperatur
ruang dan 99°C) serta variasi formula larutan isotonik (Formula A sebagai kontrol
eksisting, serta Formula B dan C sebagai formula baru) untuk menentukan laju
korosi berdasarkan metode kehilangan massa. Sebelum pengujian, mikrostruktur
sampel diamati dengan OM. Setelah pengujian elektrokimia, permukaan sampel
dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS untuk mengamati morfologi permukaan.
Hasil uji perendaman menunjukkan bahwa peningkatan temperatur dari ruang ke
99°C meningkatkan laju korosi stainless steel 316L, dengan laju korosi tertinggi
dialami oleh sampel dalam larutan yang direndam pada temperatur 99°C, yaitu
sebesar 0,1020 mm/tahun. Hasil uji elektrokimia pada temperatur ruang
menunjukkan kurva polarisasi dengan kenaikan arus anodik dan terbentuknya
positive hysteresis loop yang mengindikasikan terjadinya kerusakan lapisan pasif.
Meskipun hasil polarisasi menunjukkan terbentuknya pitting, pengamatan dengan
SEM tidak menunjukkan pit yang khas, melainkan serangan yang mengikuti batas
butir terutama pada daerah HAZ, sehingga mekanisme yang terjadi diindikasikan
sebagai korosi intergranular. Uji elektrokimia pada temperatur 80°C menunjukkan
rentang potensial pasif menyempit dan potensial korosi (Ecorr) bergeser ke arah lebih
positif disertai peningkatan arus anodik.
Perpustakaan Digital ITB