digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

BAB 1 Angel
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Angel
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Angel
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Angel
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Angel
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

ABSTRAK Angel
PUBLIC Open In Flipbook Resti Andriani

BAB 4 Angel
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Stainless steel 316L banyak digunakan pada aplikasi industri dan biomedis karena memiliki ketahanan korosi yang baik terutama didukung oleh kemampuannya membentuk lapisan pasif yang protektif. Namun, keberadaan ion klorida (Cl-) dan kenaikan temperatur dapat menurunkan stabilitas lapisan pasif dan memicu korosi setempat. Pada pabrik minuman isotonik, digunakan pipa stainless steel 316L dengan lasan untuk mendistribusikan produk pada temperatur ruang hingga 99°C. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh variasi temperatur dan perbedaan komposisi kimia antara formula minuman isotonik terhadap ketahanan korosi stainless steel 316L. Ruang lingkup penelitian difokuskan pada evaluasi perilaku korosi melalui pendekatan uji elektrokimia dan uji perendaman, serta identifikasi perubahan morfologi permukaan sebelum dan sesudah pengujian menggunakan Optical Microscope (OM) dan Scanning Electron Microscope-Energy Dispersive Spectroscopy (SEM-EDS). Uji elektrokimia meliputi pengukuran Open Circuit Potential (OCP) dan pengujian Potentiodynamic Polarization untuk mengidentifikasi perilaku pasivasi, kecenderungan pitting, serta karakteristik daerah histeresis. Uji perendaman dilakukan dengan variasi temperatur (temperatur ruang dan 99°C) serta variasi formula larutan isotonik (Formula A sebagai kontrol eksisting, serta Formula B dan C sebagai formula baru) untuk menentukan laju korosi berdasarkan metode kehilangan massa. Sebelum pengujian, mikrostruktur sampel diamati dengan OM. Setelah pengujian elektrokimia, permukaan sampel dikarakterisasi menggunakan SEM-EDS untuk mengamati morfologi permukaan. Hasil uji perendaman menunjukkan bahwa peningkatan temperatur dari ruang ke 99°C meningkatkan laju korosi stainless steel 316L, dengan laju korosi tertinggi dialami oleh sampel dalam larutan yang direndam pada temperatur 99°C, yaitu sebesar 0,1020 mm/tahun. Hasil uji elektrokimia pada temperatur ruang menunjukkan kurva polarisasi dengan kenaikan arus anodik dan terbentuknya positive hysteresis loop yang mengindikasikan terjadinya kerusakan lapisan pasif. Meskipun hasil polarisasi menunjukkan terbentuknya pitting, pengamatan dengan SEM tidak menunjukkan pit yang khas, melainkan serangan yang mengikuti batas butir terutama pada daerah HAZ, sehingga mekanisme yang terjadi diindikasikan sebagai korosi intergranular. Uji elektrokimia pada temperatur 80°C menunjukkan rentang potensial pasif menyempit dan potensial korosi (Ecorr) bergeser ke arah lebih positif disertai peningkatan arus anodik.