Proses ekstraksi nikel limonit menggunakan teknologi HPAL (High Pressure Acid
Leaching) dan nikel saprolit menggunakan teknologi RKEF (Rotary Klin Electric
Furnace) menghasilkan limbah sisa produksi berupa dry tailing dan slag nikel yang
berpotensi melepaskan logam-logam berbahaya yang dapat berbahaya sehingga
diperlukan uji statik dan uji kinetik Free Draining Column Leaching (FDCL). Uji
karakteristik fisik dry tailing menunjukkan nilai kadar air 17%; berat volume 1,5
g/cm3
; dan berat jenis 3,79 dengan sebagian besar tanahya berupa lanau sebesar
83%. Sampel slag menunjukkan kadar air 3%; berat volume 1,61 g/ cm3
; dan berat
jenis 3,25 dengan sebagian besar jenis tanahnya berupa tanah pasir sebesar 92%.
Uji mineralogi menunjukkan bahwa dry tailing didominasi oleh gipsum dan unsur
yang paling dominan yakni Fe 41,888%, sedangkan slag nikel didominasi oleh
mineral monticellite dengan unsur yang paling dominan yakni Ca 19,943%. Uji
statik dry tailing terklasifikasi ke dalam UC, sedangkan slag nikel termasuk NAF.
Kemudian dalam identifikasi logam, logam kromium heksavalen lebih banyak
terlihat di air lindi dry tailing. Konsentrasi kromium heksavalen paling tinggi
ditemukan pada reaktor 1 dengan komposisi 100% dry tailing yakni memiliki
konsentrasi paling tinggi di 0,51204 mg/L, sedangkan pada reaktor 2 dengan
komposisi 100% slag nikel yakni memiliki konsentrasi paling tinggi sebesar
0,00106 mg/L. Berdasarkan perlakuan reaktor, ditemukan bahwa dengan dilakukan
beberapa perlakuan antara sampel dry tailing dan slag nikel menunjukkan perilaku
pelindian logam air lindi berturut-turut paling kecil yakni perlakuan reaktor 5,
reaktor 4, dan reaktor 3.
Perpustakaan Digital ITB