digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


BAB 1 Tatia Sherly Sadhila Putri
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Tatia Sherly Sadhila Putri
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Tatia Sherly Sadhila Putri
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Tatia Sherly Sadhila Putri
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Tatia Sherly Sadhila Putri
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Tatia Sherly Sadhila Putri
Terbatas  Resti Andriani
» Gedung UPT Perpustakaan

Unit thickener pada pengolahan bijih emas dengan proses Carbon in Leach (CIL) berfungsi memisahkan slurry menjadi underflow dengan persen padatan tinggi dan overflow berupa cairan yang lebih jernih. Kinerja pemisahan ini dipengaruhi oleh proses flokulasi dan perbedaan karakteristik ore. PT Citra Palu Minerals mengolah bijih dari tiga sumber, yaitu Pit Hill Reef (HR-01), Pit River Reef (RR-01), dan Underground (UG-01). Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh karakteristik ore terhadap kinerja flokulasi pada uji pengendapan (settling test) serta menentukan tipe dan dosis flokulan yang sesuai untuk masing-masing sumber bijih. Sampel diambil dari stockpile area pengolahan PT Citra Palu Minerals dan dipreparasi melalui drying, kominusi, homogenisasi, serta coning and quartering. Karakterisasi ore dilakukan menggunakan analisis distribusi ukuran partikel (particle size distribution, PSD), X-ray diffraction (XRD), dan X-ray fluorescence (XRF). Uji pengendapan (settling test) diawali dengan seleksi flokulan pada persen padatan 15% dan dosis 20 g/t untuk menentukan produk yang paling sesuai dari tipe conventional, ATBS, dan VHM. Ketiga produk terpilih selanjutnya diuji pada variasi persen padatan 12% dam 15% serta dosis flokulan 10, 15, dan 20 g/t. Kinerja flokulasi dievaluasi berdasarkan settling rate, compaction, dan overflow clarity. Hasil karakterisasi menunjukkan bahwa ketiga sumber bijih memiliki jenis mineral yang sama dengan persentase kandungan mineral yang berbeda. Sampel RR-01 memiliki clay content tertinggi (kaolinite 15,51 wt% dan fraksi < 8 ?m 17,1%), diikuti sampel HR-01 (5,63 wt%; 8,5%), serta sampel UG-01 (1,84 wt%; 3,9%), sehingga RR-01 menghasilkan settling rate terendah (2,5 m/jam), serta nilai compaction dan overflow clarity tertinggi. Kinerja flokulasi juga dipengaruhi oleh komposisi kimia dan mineralogi dominan, terutama kandungan calcite pada UG-01 sebesar 33,83 wt% yang berkaitan dengan keberadaan ion Ca2+. Tahap 1 seleksi flokulan dilakukan untuk memilih satu produk terbaik dari setiap tipe flokulan pada masing-masing sampel: HR-01 (Dryfloc 34 E, Dryfloc 5115 E, dan Dryfloc 34F), RR-01 (Dryfloc 23 E, Dryfloc SU 25 E, dan Dryfloc 23 F), serta UG-01 (Dryfloc 23 E, Dryfloc 5115 E, dan Dryfloc 23 F) berturut-turut untuk tipe conventional, ATBS, dan VHM. Tahap 2 dilakukan dengan memvariasikan sampel, tipe flokulan, dosis flokulan, serta persen padatan 12% dan 15% untuk menentukan kondisi optimum proses flokulasi. Hasil tahap 2 menunjukkan kondisi optimum pada persen padatan 12% untuk seluruh sampel, dengan Dryfloc 34 E (15 g/t) untuk HR-01, Dryfloc SU 25 E (20 g/t) untuk RR-01, dan Dryfloc 23 E (15 g/t) untuk UG-01.