digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Tanah merupakan fondasi utama tegakan hutan yang sifat fisik dan kimianya terbukti berkorelasi dengan simpanan karbon dan keragaman spesies pohon di berbagai kawasan hutan dunia, namun keterkaitan tersebut belum pernah dikaji di Taman Buru Masigit Kareumbi (TBMK), kawasan konservasi lintas tiga kabupaten di Jawa Barat seluas ±12.420–12.443 ha yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air bagi DAS Citarum dan Cimanuk sekaligus suaka biodiversitas. Kawasan ini pernah mengalami degradasi akibat perambahan ilegal, dan meski program reboisasi "Wali Pohon" sejak 2008 telah menanam >217.000 bibit, tingkat kegagalan tanam masih tinggi (22–29%) yang diduga akibat kondisi tanah terdegradasi yang belum mampu mendukung adaptasi bibit secara optimal. Namun demikian, penelitian di TBMK sejauh ini masih terbatas pada valuasi ekowisata, hidrologi, dan taksonomi fauna, sehingga kajian mengenai sifat fisik-kimia tanah serta kaitannya dengan simpanan karbon dan keragaman pohon di kawasan ini masih menjadi kesenjangan penting untuk diisi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis kondisi sifat fisik-kimia tanah TBMK, mengetahui keragaman pohon dan nilai estimasi simpanan karbonnya, serta merekomendasikan urutan prioritas parameter sifat fisik-kimia tanah yang perlu diperbaiki pada setiap tipe tutupan lahan guna mendukung keberhasilan reforestasi TBMK. Penelitian ini dilakukan di 3 resort TBMK (Utara, Timur, Barat) menggunakan desain purposive dikombinasikan stratified random sampling pada 54 petak ukur (nested plot 20×20 m) yang tersebar di 3 tipe tutupan lahan (hutan alam, hutan sekunder, hutan di area buffer). Sampel tanah diambil dengan teknik undisturbed dan disturbed (untuk analisis sifat fisik-kimia tanah), dianalisis di Lab ITB dan UNPAD. Data dianalisis menggunakan Indeks Shannon-Wiener (keragaman), persamaan alometri Chave (biomassa), pendekatan SOC & IPCC (simpanan karbon), uji ANOVA/Tukey, PLSR (hubungan tanah dengan karbon & keragaman), dan studi literatur untuk perbandingan. Secara umum, kondisi lingkungan pada ketiga jenis tutupan lahan menunjukkan karakteristik yang relatif serupa, khususnya pada parameter elevasi (962,19–1097,28 m) dan kelerengan (13–17,61°), serta suhu udara (22,72–23,78°C), kelembaban tanah (72,78–84,72%), dan kelembaban udara (88,39–91,56%) yang berada pada rentang yang tidak jauh berbeda antar tutupan lahan. Meskipun demikian, terdapat perbedaan pada parameter vegetasi, di mana kerapatan pohon tertinggi ditemukan pada Hutan Sekunder (315,28 individu/ha), sementara kerapatan pancang tertinggi terdapat pada Hutan di Area Buffer (104,17 individu/ha). Jumlah spesies pohon tertinggi dijumpai pada Hutan Alam (15 spesies), sedangkan jumlah spesies pancang tertinggi ditemukan pada Hutan Alam dan Hutan di Area Buffer dengan nilai yang sama (10 spesies). Adapun spesies pohon dengan Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Pinus merkusii pada Hutan Sekunder (202,53), sedangkan pada tingkat pancang, INP tertinggi dimiliki oleh Ficus septica (ki ceuceu) yang juga berada pada Hutan Sekunder (135,06). Hasil perhitungan estimasi simpanan karbon terlihat bahwa yang tertinggi ada pada hutan sekunder (603,6 ton/ha), lalu pada hutan alam tergolong moderat (219–321 ton/ha), dan yang terendah pada hutan di area buffer (128–198 ton/ha). Keragaman tertinggi ada pada hutan alam (H'=1,56–2,33), di buffer tergolong sedang, dan yang terendah di hutan sekunder (H'=0,85–1,36). Sifat fisik-kimia tanah secara keseluruhan ialah bulk density berada dalam rentang 0,74 - 1,01 g/cm3, warna tanah coklat dengan sedikit kroma merah/abu, tekstur tanah didominasi debu. Keasamaan tanah berada dalam rentang sedikit asam - asam, kandungan C-organik & nitrogen, tergolong sedang-tinggi, fosfor sangat rendah-sedang, kation K & Ca bervariasi, kation Mg tinggi, KTK tergolong tinggi-sangat tinggi. Al dan H tukar bervariasi. Analisis PLSR: model sifat tanah terhadap simpanan karbon sangat baik (R²=0,98, menjelaskan 81,9% varians data sifat fisik dan kimia tanah), hasil menyatakan bahwa parameter yang berhubungan kuat ialah Bulk density (-0,284899), pasir/Sand (-0,254498), KTK (-0,151952), dan Mg (-0,274907) yang berhubungan secara negatif atau berbanding terbalik, serta Silt (0,192800), N-Total (0,202141), dan H-dd (0,192168) yang berhubungan secara positif atau berbanding lurus. Namun model terhadap keragaman pohon dinyatakan lemah (R²=0,72, hanya menjelaskan 23,4% varians data sifat fisik dan kimia tanah), hasil menyatakan bahwa keragaman sangat dipengaruhi Bulk density (0,136619), pasir/Sand (0,128825), P-Tersedia (0,124505), dan Mg-dd (0,088446) yang berhubungan secara positif atau berbanding lurus, serta C-Organik (-0,164203), H-dd (-0,119658), N-Total (-0,109577), dan Clay (-0,088553) yang berhubungan secara negatif atau berbanding terbalik. Berdasarkan komparasi data sifat fisik dan kimia tanah TBMK dengan literatur serta hasil hubungan dengan PLSR, parameter yang perlu diperbaiki pada tutupan hutan alam dengan tujuan meningkatan nilai simpanan karbonnya ialah fraksi (pasir dan liat) dan pH. Untuk hutan sekunder ialah fraksi pasir dan liat, P-tersedia, H-dd, Mg-dd, K-dd, Ca-dd, dan pH agar mampu meningkatkan keragaman pohon. Lalu parameter sifat fisik dan kimia tanah yang perlu diperbaiki di hutan di area buffer adalah fraksi pasir, N-total, Ca-dd, P-tersedia, dan K-dd agar meningkatkan dimensi kayu (biomassa). Penelitian ini memberikan rekomendasi perbaikan sifat tanah yang dapat mendukung keberhasilan reforestasi di TBMK.