Pasar mi Aceh di Kota Bandung semakin kompetitif seiring maraknya kuliner
daerah. Selera Aceh, pelaku kafe-style, belum menjadi merek top-of-mind saat
konsumen memikirkan "mi Aceh di Bandung". Penelitian ini menganalisis cara
Selera Aceh memperkuat positioning menuju top-of-mind melalui identifikasi faktor
kunci persepsi konsumen, penilaian ekuitas merek dengan Customer-Based Brand
Equity (CBBE) Keller, dan rumusan strategi positioning serta perbaikan
pemasaran.
Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan
15 pelanggan Selera Aceh, dilengkapi observasi dan data sekunder. Analisis
tematik memetakan temuan ke dimensi CBBE (Salience, Performance, Imagery,
Judgements, Feelings, Resonance) dan prinsip Integrated Marketing
Communication (IMC) untuk arahan strategis.
Enam tema utama ditemukan. Rasa autentik menjadi pendorong utama kunjungan
ulang, didukung pengalaman nyaman dan homey yang memperkuat keterikatan
emosional serta persepsi value for money. Kesadaran merek terbentuk melalui
kanal gerai, aplikasi pesan-antar, media sosial, dan aktivitas komunitas. Gap
teridentifikasi pada identitas visual, nuansa budaya Aceh, serta komunikasi
relevansi mi Aceh bagi warga Bandung luas.
Penelitian mengusulkan reposisi Selera Aceh sebagai “Kafe Mi Aceh Autentik di
Bandung”dengan keunggulan rasa sebagai janji utama. Lima solusi bisnis
terintegrasi direkomendasikan: positioning rasa melalui standardisasi resep dan
menu andalan; penguatan gerai sebagai tempat nongkrong bergaya Aceh inklusif;
rencana IMC multi-kanal (signage, digital, konten merek); promosi dan loyalitas
untuk kunjungan ulang; serta panduan identitas merek dengan kampanye “More
Acehnese, More Comfortable” dan implementasi satu tahun. Strategi ini
diharapkan memaksimalkan kekuatan produk dan pengalaman untuk mencapai
top-of-mind di pasar mi Aceh Bandung.
Perpustakaan Digital ITB