digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pasar mi Aceh di Kota Bandung semakin kompetitif seiring maraknya kuliner daerah. Selera Aceh, pelaku kafe-style, belum menjadi merek top-of-mind saat konsumen memikirkan "mi Aceh di Bandung". Penelitian ini menganalisis cara Selera Aceh memperkuat positioning menuju top-of-mind melalui identifikasi faktor kunci persepsi konsumen, penilaian ekuitas merek dengan Customer-Based Brand Equity (CBBE) Keller, dan rumusan strategi positioning serta perbaikan pemasaran. Pendekatan studi kasus kualitatif digunakan melalui wawancara mendalam dengan 15 pelanggan Selera Aceh, dilengkapi observasi dan data sekunder. Analisis tematik memetakan temuan ke dimensi CBBE (Salience, Performance, Imagery, Judgements, Feelings, Resonance) dan prinsip Integrated Marketing Communication (IMC) untuk arahan strategis. Enam tema utama ditemukan. Rasa autentik menjadi pendorong utama kunjungan ulang, didukung pengalaman nyaman dan homey yang memperkuat keterikatan emosional serta persepsi value for money. Kesadaran merek terbentuk melalui kanal gerai, aplikasi pesan-antar, media sosial, dan aktivitas komunitas. Gap teridentifikasi pada identitas visual, nuansa budaya Aceh, serta komunikasi relevansi mi Aceh bagi warga Bandung luas. Penelitian mengusulkan reposisi Selera Aceh sebagai “Kafe Mi Aceh Autentik di Bandung”dengan keunggulan rasa sebagai janji utama. Lima solusi bisnis terintegrasi direkomendasikan: positioning rasa melalui standardisasi resep dan menu andalan; penguatan gerai sebagai tempat nongkrong bergaya Aceh inklusif; rencana IMC multi-kanal (signage, digital, konten merek); promosi dan loyalitas untuk kunjungan ulang; serta panduan identitas merek dengan kampanye “More Acehnese, More Comfortable” dan implementasi satu tahun. Strategi ini diharapkan memaksimalkan kekuatan produk dan pengalaman untuk mencapai top-of-mind di pasar mi Aceh Bandung.