Permasalahan backlog perumahan merupakan isu struktural yang hingga saat ini
masih menjadi tantangan utama pembangunan perkotaan di Indonesia, khususnya
di kota-kota besar seperti Kota Bandung. Backlog perumahan tidak hanya
mencerminkan ketidakseimbangan antara jumlah rumah dan jumlah keluarga,
tetapi juga menggambarkan keterbatasan akses masyarakat berpenghasilan rendah
(MBR) terhadap hunian yang layak, terjangkau, dan berlokasi sesuai dengan
kebutuhan aktivitas ekonomi. Berbagai kebijakan perumahan telah dilaksanakan
oleh pemerintah, terutama melalui program Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas
Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP). Namun, efektivitas kebijakan
tersebut dalam menurunkan backlog perumahan MBR secara berkelanjutan masih
dipertanyakan, terutama ketika dihadapkan pada dinamika harga lahan,
keterbatasan pasokan rumah, serta kondisi sosial-ekonomi rumah tangga MBR.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika backlog perumahan MBR di
Kota Bandung serta mengevaluasi efektivitas berbagai skenario kebijakan
perumahan melalui pendekatan sistem dinamik. Secara khusus, penelitian ini
bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi mekanisme struktural yang membentuk
backlog perumahan MBR; (2) menganalisis pengaruh kebijakan sisi permintaan,
sisi penawaran, sosial-ekonomi, serta kebijakan lahan dan lokasi hunian terhadap
dinamika backlog; dan (3) merumuskan kombinasi kebijakan yang paling efektif
dalam menurunkan backlog perumahan MBR dalam jangka panjang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pemodelan sistem dinamik
dengan membangun Causal Loop Diagram (CLD) dan stock and flow diagram
(SFD). Model dikembangkan melalui beberapa submodel utama, yaitu submodel
populasi dan keluarga MBR, submodel segmentasi MBR dan preferensi hunian,
submodel keterjangkauan dan kas keluarga MBR, submodel kas developer dan
penyediaan rumah, serta submodel harga dan ketersediaan lahan. Model
disimulasikan untuk periode jangka panjang guna menangkap perilaku dinamis
sistem perumahan serta dampak tertunda dari kebijakan. Skenario kebijakan yang
dianalisis meliputi skenario dasar (Business as Usual/BAU), skenario kebijakan sisi3
permintaan, skenario sosial-ekonomi, skenario sisi penawaran, skenario kebijakan
lahan dan lokasi hunian, serta skenario kebijakan gabungan.
Hasil simulasi menunjukkan bahwa pada skenario BAU, backlog perumahan MBR
di Kota Bandung cenderung menurun secara lambat namun tetap bertahan pada
tingkat yang tinggi dalam jangka panjang. Skenario kebijakan sisi permintaan dan
sosial-ekonomi memberikan dampak positif terhadap penurunan backlog, namun
bersifat terbatas dan tidak berkelanjutan apabila tidak diimbangi dengan
peningkatan kapasitas penyediaan rumah dan pengendalian faktor lahan. Skenario
sisi penawaran menunjukkan kemampuan menurunkan backlog dalam jangka
menengah, tetapi berpotensi menimbulkan efek balik dalam jangka panjang akibat
tekanan harga dan keterbatasan lahan. Sementara itu, skenario kebijakan lahan dan
lokasi hunian memberikan dampak paling konsisten dalam menurunkan backlog
secara jangka panjang melalui peningkatan akses lahan yang layak dan terjangkau
bagi MBR. Skenario kebijakan gabungan menunjukkan hasil paling optimal,
dengan penurunan backlog yang signifikan dan relatif stabil hingga akhir periode
simulasi.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan model sistem dinamik backlog
perumahan MBR yang tidak hanya berfokus pada kepemilikan rumah melalui
skema subsidi, tetapi juga memasukkan pilihan hunian alternatif berupa bangun
mandiri dan sewa, serta mempertimbangkan aspek lokasi dan biaya transportasi
sebagai bagian dari keterjangkauan hunian. Selain itu, penelitian ini menekankan
pentingnya interaksi lintas kebijakan dan mengungkap bahwa kebijakan perumahan
yang berdiri sendiri cenderung menghasilkan dampak yang tidak berkelanjutan.
Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan kajian
perumahan perkotaan berbasis sistem dinamik dengan menegaskan bahwa backlog
perumahan merupakan fenomena sistemik yang dipengaruhi oleh interaksi
kompleks antara faktor sosial, ekonomi, kelembagaan, dan spasial. Secara praktis,
hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat dan
daerah dalam merumuskan kebijakan perumahan yang lebih terintegrasi, adaptif,
dan berorientasi jangka panjang guna menurunkan backlog perumahan MBR secara
berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB